12.13.2012

[FF] My Secret Twin {Yes, She Is My Twin}/Chapter 2

Title        : My Secret Twin/Part 2
Genre     : Family, Family, Rommance
Rating     : T
Length    : Chaptered
Cast       : Kim Ji Woon (OC)
                Kim Jong Woon
                Kim Jong Jin
                All Super Junior member
                *misterius namja*

~~~

Ji Woon POV

Aku memandang kagum pada taman di belakang rumah sakit ini. Aku menghirup udara dalam-dalam, berusaha mengisi setiap inchi rongga dalam paru-paruku. Sudah berapa lama aku tak merasakan ini semua. Aku masih agak sulit percaya bahwa aku tidur selam 8 tahun. Tapi melihat keadaan lingkunganku sekarang,
aku baru percaya. Semuanya telah berubah. Jongjin tengah duduk di bangku sampingku. Aku memandang tiap inchi tubuhnya. Dia sungguh berbeda dengan Jong Jin yang kukenal. Dia jauh lebih tinggi. Dia kini sudah besar. Dia semakin tampan dan semakin mirip dengan Jong Woon. Jong Woon? Ah anak itu juga berbeda jauh. Kemarin saat aku bangun, aku sedikit kaget. Dia benar-benar tampan sekarang. Pakaiannya juga bagus. Dia seperti model saja. Rambutnya juga di cat kemerahan. Dia juga sangat tinggi. Aku tetap kalah tinggi dengannya. Ah Jong Woon ah, apakah kau senang aku kembali? Aku yakin sekarang kau senang, karena aku pun demikian.
“Noona, kenapa tersenyum seperti itu melihatku? Apa ada yang aneh dengan pakaianku?” Jong Jin terlihat bingung. Aku tertawa kecil.
“Yaa, wajahmu lucu sekali. Anio, aku hanya senang melihatmu di sini. Ah aku begitu merindukan Jong Woon, tapi dia kenapa begitu cepat meningalkanku tadi. Huh, bahkan dia tak menemaniku terapi tadi. Aku ingin cepat berjalan. Jong Jin ah, bantu aku berjalan ne,” aku merajuk pada dongsaengku. Dia geleng-gelang lalu beranjak dari tempatnya duduk dan membantuku berdiri dari kursi rodaku. Ah, ototku benar-benar kaku. Aku kesulitan menggerakkan tubuhku terlebih kakiku. Jong Jin dengan sabar memapahku dan membantuku menapak pelan. Gomawo saengie.

------------
“Apa kau bosan?” aku menoleh pada suara yang mulai familiar di telingaku. Kudapati seorang namja dengan baju putih dan stetoskop yang tergantung di sakunya. Aku tersenyum.
“Seung Jo oppa. Ne, aku sangat bosan. Jong Jin bilang bahwa dia sedang bekerja, Jong Woon juga bekerja, eomma dan appa sedang mengurus bisnisnya. Ish, sudah berapa banyak hal yang kulewatkan hingga aku tak tahu kalau keluargaku kini mempunyai bisnis. Ya oppa, apakah kau sibuk?” Seung Jo oppa, dokter yang menanganiku tertawa kecil karena rajukanku. Aish, apa ada yang lucu.

0o0

Seung Jo POV

Aku tertawa kecil saat dia merajuk. Aku sungguh gemas melihat wajahnya. Ya wajahnya, wajah yang selama 8 tahun ini kurawat. Dia mempoutkan bibirnya. Aku semakin geli melihatnya.
“Aku agak sibuk. Aku kesini untuk mengecek keadaanmu. Apakah kau merasa tidak nyaman? Coba kau berbaring,” dia mendengus kesal tapi tak membantahku. Aku mengecek keadaannya. Aku tersenyum puas. Semakin hari kondisi tubuhnya semakin baik. Hatiku semakin lega.
“Kau semakin sehat. Jangan lupa untuk minum obat jika kau ingin segera keluar dari rumah sakit ini. Aku yakin waktu 8 tahun sudah cukup membuatmu bosan dengan suasana ini,” aku mengacak rambutnya pelan. Dia melotot padaku. Aku kembali tertawa. Kurogoh saku kemejaku dan mengeluarkan sebuah PSP.
“Ini untukmu. Aku yakin kau sangat bosan. Ini bisa menemanimu saat kau sendirian,” mendadak saja matanya berbinar. Tapi sedetik kemudian matanya kembali sayu.
“Oppa, pabo. Aku tak bisa memainkannya. Aku saja masih belajar menggunakan ponsel yang aneh itu. Ponsel sekarang sangat aneh. Hanya disentuh sudah bermunculan menu aneh. Tapi sepertinya ini asik oppa,” dia memandangku penuh ingin tahu. Aku mati-matian menahan tawaku. Melihat matanya yang memandangku polos seakan mengusir rasa geliku.
Arrayo. Aku akan mengajarimu sebelum aku mengecek pasien lainnya,” aku bergegas duduk di samping tempat tidurnya. Dengan sabar aku mengajarinya. Dia cukup cepat menangkap yang kuajarkan. Dia begitu antusias memainkan benda kotak kecil itu hingga mengacuhkanku yang mengucapkan selamat beristirahat untuknya.

------------

‘Sreek Sreek’

Aku terus membolak-balikkan lembaran kertas di hadapanku. Aku sedang memeriksa catatan medis milik Ji Woon. Sungguh ini sebuah keajaiban. Perkembangannya terus naik. Dia semakin membaik. Ku letakkan lembaran kertas itu di meja kerjaku. Kulonggarkan kerahku. Perasaan apa ini. Aku sangat senang karena akhirnya Ji Woon bisa kembali menikmati indahnya dunia ini. Tapi kenapa ada perasaan sedih yang menyangkut di hatiku. Aku merasa sangat keberatan jika dia harus keluar dari rumah sakit ini. Apa karena aku merawatnya selama 8 tahun ini? Apa karena aku sudah terbiasa melihatnya setiap hari? Apa karena dia pasienku yang spesial? Argghh. Aku beranjak ke kamar mandi. Ku cuci mukaku agar merasa lebih tenang.

0o0

Jong Jin POV

“Jong Jin ah, jangan bilang appa, eomma, dan Jong Woon ya. Noona hari ini ambruk lagi. Kau kesinilah, aku sangat takut”
Mataku melotot membaca sms dari noonaku. Omo, apa yang terjadi padanya. Apakah dia baik-baik saja? Kusambar mantelku. Kutinggalkan racikan kopi yang belum selesai kubuat.
“Ya Jong Jin ah, kau mau kemana?” tak kuhiraukan panggilan Hye Mi noona.  Aku memacu motorku menuju rumah sakit yang selama ini rutin kudatangi. Tanganku gemetar. Aku benar-benar cemas.
Kuparkir motorku dengan tergesa, tak mempedulikan teriakan tukang parkir rumah sakit. Aku terus berlari menyusuri lorong dengan satu tujuan, kamar 22.
“Noona !” teriakku saat aku membuka pintu kamarnya. Aku melongo melihat apa yang ada di depanku. Noonaku tengah berkutat benda kotak hitam yang akhirnya kusadari bahwa itu adalah PSP. Dia terlihat sangat serius.
“Yak noona, apakah kau baik-baik saja?” Omo lihatlah mimik wajahnya. Dia sama sekali tak menolehku. Dia tetap asik dengan PSPnya. Tunggu, PSP?
“ Noona, kau dapat PSP darimana?” kali ini aku juga menggoyangkan badannya.
“Yak kau menggangguku !!” aku kaget. Dia ini kenapa sih. “Aish kalah.”
Dia melotot kesal kepadaku. Aku hanya menggaruk kepalaku bingung. Tunggu , dia belum menjawab.
“Noona, kau dapat PSP itu darimana? Apakah kau mencurinya? Katakan noona. Aku tak memberimu, Jong Woon hyung juga tak memberikannya untukmu. Jadi siapa?” wajahnya berubah cerah. Aku heran, begitu lenturkah otot-otot wajah noonaku hingga dia bisa merubah ekspresi secepat itu.
“Dari Seung Jo oppa,” bibirnya tertarik membentuk lengkungan yang manis. Yeppeo.
“Mwo?  Seung Jo hyung? Bagaimana bisa? Aish kau sungguh merepotkan,” aku merebut PSPnya dan kusimpan di meja. “Istirahatlah, bukankah noona bilang tadi noona ambruk lagi. Kalau noona tetap main PSP, noona akan  ambruk lagi. Tenang noona, aku akan di samping noona. Aku tak akan membiarkan noona merasa kesepian.”
Tiba-tiba dia tertawa keras. Aku semakin bingung.
“Hahahahaha. Pabo. Aku bohong padamu. Mana mungkin aku ambruk lagi kalau ada Seung Jo oppa yang selalu merawatku.  Aku hanya merasa sangat bosan di sini. Kalian meninggalkanku sendirian di tempat yang memuakkan ini. Jangan salahkan aku jika menyeretmu kesini dengan cara seperti itu. Untung saja Seung Jo oppa mengerti aku bosan, dan dia memberiku mainan itu. Aku bosan di sini Jong Jin ah. Aku ingin keluar. Aku ingin keliling Seoul,”dia meraih lenganku dan menatapku manja. Aish, sebenarnya siapa dongsaengnya siapa?
“Andwe noona. Noona masih butuh perawatan. Noona tidak boleh keluar rumah sakit dulu. Nanti kalau noona sudah keluar dari rumah sakit ini, aku akan mengajak noona keliling Seoul. Aku janji,” aku menyodorkan kelingkingku, berusaha membujuknya.
“Aish, ya sudahlah. Yaksok?” buru-buru aku ikut menautkan jariku. “Tapi sekarang bawa aku keluar dari kamar ini. Kamar ini sungguh pengap. Ayo kita berlatih lagi di taman.”
“Baiklah, kajja noona,” aku membantunya turun dari ranjangnya dan menuntunnya ke kursi roda.
0o0
Ji Woon POV
Jong Jin pamit pulang karena ada urusan mendadak. Dan sekarang aku sendirian lagi. Aku sangat bosan. Jong Woon bilang dia sangat sibuk, tapi dia berjanji akan kesini nanti malam. Eomma juga akan kesini satu jam lagi. Ah, aku bosan. Aku sungguh muak kembali ke kamar yang berbau obat. Sebuah ide terlintas di pikiranku. Kuputuskan untuk pergi ke ruangan Seung Jo oppa, berharap dia bisa menemaniku. Tapi ternyata harapanku pupus saat kulihat Seung Jo oppa tengah berlari di sisi pasien yang penuh darah. Ish, aku ngeri melihat darah yang keluar dari tubuh orang itu. Dengan sebal aku mengarahkan kursi rodaku ke taman.  Cuaca sedikit redup. Udara sedikit dingin, tapi aku sama sekali tak acuh. Entah kenapa aku jadi teringat saat aku masih bersama sahabatku di Ceonahn dulu. Bagaimana kabar mereka sekarang? Aku sangat merindukan mereka.
‘Sreeekk’
Aku tersentak saat mendapati sebuah jaket tersampir menyelimuti tubuhku.
“Tidak baik orang sakit duduk di sini saat cuaca tak bersahabat seperi ini. Kajja ku antar ke kamarmu. Kamu dirawat di kamar berapa?” aku melongo melihat seorang namja yang kini mendorong kursi rodaku meninggalkan taman.
Jamkamman ! Yak, kau mau membawaku kemana? Berhenti ! Kau mau menculikku hah?” dia mengerling bingung. Dia memang tak memperlihatkan watak jahat sama sekali, tapi tetap saja aku harus waspada. Aku sudah menunggu 8 tahun untuk kembali, aku tak ingin tidur untuk selamanya lagi, a.k.a dibunuh namja aneh ini.
“Ish, aku hanya ingin membawamu masuk ke kamarmu saja. Kau bisa kedinginan di luar. Cepat dimana kamarmu? Aku sedang terburu-buru. Atau kau mau aku tinggal di sini saja?” dia berhenti tepat di samping kamarku.
“Gurae, pergi sana. Aku tak butuh bantuanmu,” aku melengos.
“Aish, jinjja. Gureom, aku pergi,” dia tidak bercanda. Dia benar-benar pergi meninggalkanku. Aku mendengus kesal. Tunggu, jaketnya?
“Yak !” namja tadi sudah hilang. Ah ya sudahlah, kalau dia merasa kehilangan, pasti dia akan kembali.
0o0
Yesung POV
Ah, pagi ini rasanya segar sekali. Tak dapat kubohongi tubuhku seperti remuk karena jadwal yang menggila. Tapi bila aku mengingat bahwa hari ini Ji Woon akan keluar dari rumah sakit membuatku sangat senang. Aku meloncat dari tempat tidurku saat kudengar di luar ada suara Jung Hoon hyung, manajer kami.
“Hyung ! Apakah aku ada waktu luang hari ini?” seruku bersemangat. Ternyata tak hanya Jung Hoon hyung yang ada di ruang tengah, tapi juga Ryeowook, Kyuhyun, dan juga Eunhyuk.
“Kau sudah bangun? Kemarilah, kita akan membahas comeback kalian minggu depan,” aku melangkah ke ruang tengah dan duduk di samping Ryeowook. “Hari ini kau tak ada waktu luang. Kau hanya ada istirahat sekitar satu jam, yaitu sebelum kita berangkat ke SNL.”
“Yak hyung, itukan sudah sore. Tapi... gurae, aku minta ijin pulang ke rumah eomma dan appa di waktu luang itu. Tenang hyung, aku tidak akan terlambat untuk shooting SNL. Aku janji,” mata Jung Hoon yang awalnya melotot, kini sedikit redup.
“Kupegang janjimu. Kalau kau terlambat, kau akan mendapat hukuman,” dia menimpukku dengan gulungan patitur lagu. Aku tergelak.
“Oke hyung,” aku menjawabnya dengan semangat.
“Hyung, kau kenapa? Apa kau salah minum obat. Kau aneh sekali. Kau bukan Yesung hyung ya?” Ryewook dan Eunhyuk memandangku heran. Aku hanya menggeleng pelan dan mulai fokus pada patitur laguku.
0o0
Ji Woon POV
Aku masih terpekur memandangi tembok merah muda yang membungkus kamar besarku. Ya kamar besar. Kamar ini jauh lebih besar dibandingkan dengan kamarku dulu. Desainnya sangat indah, seperti kamar putri di negeri dongeng. Tapi aku agak geli sebenarnya. Aku lebih suka kamar yang simple. Jong Jin dan appa sedang bekerja. Eomma sedang mempersiapkan hidangan istimewa untuk makan malam nanti. Jong Woon? Entah kenapa anak itu sangat sibuk. Aku tak tahu dia bekerja apa hingga sangat sulit bertemu dengannya. Bahkan dia tak ikut menjemputku saat keluar dari rumah sakit tadi. Jong Woon pabo !
‘Krieet’
“Kau suka”
Aku menoleh pada sumber suara. Kulihat Jong Woon tengah bersandar di pintu sambil menenteng sebuah tas kecil. Aku melengos kesal.
“Kau marah karena aku tak ikut menjemputmu?” aku masih terdiam kesal. Dia menghampiriku dan duduk di tepi ranjangku.
“Jangan marah Ji Woon ah. Kau sangat jelek jika marah. Aku tak mau wajahku ikut jelek. Lihat apa yang kubawa,” dia menyodorkan tas tadi kepadaku. Dengan masih kesal, aku membuka bungkusan itu. PSP?
“Wuaaaaaaa Jong Woon, gomawo. Aku suka sekali mainan ini. Akhirnya aku punya PSP seperti milik Seung Jo oppa. Gomawo Jong Woon ah. Baiklah karena kau baik, kau kumaafkan. Kajja kita ke dapur,” aku turun dari ranjangku dan kami melangkah bersama menuju dapur. Kulihat eomma hampir selesai menghidangkan makanan. Aku duduk diikuti Jong Woon. Tunggu, kenapa wajah Jong Woon muram begitu. Apa dia tidak senang melihatku kembali ke rumah? Dia mengecek jam tangannya.
“Mianhae Ji Woon ah, eomma, aku tak bisa ikut makan malam dengan keluarga kita. Aku harus kembali ke tempat kerjaku. Setengah jam lagi pengambilan gambar SNL akan dimulai. Aku harus segera kesana eomma,” eomma menghampiri Jong Woon dan mengelus kepalanya.
“Gwaenchana adeul. Eomma mengerti. Cepatlah pergi, kau akan terlambat. Eomma tak mau kau dimarahi,”aish apa-apaan ini. Kenapa dia harus pergi lagi. Begitu pentingkah pekerjaannya. Aku benar-benar kesal padanya.
“Ji Woon ah,” aku tetap diam tak mau menatapnya.
“Mianhae, aku pergi dulu ya. Aku akan secepatnya datang kesini lagi. Annyeong,” kurasakan kecupan lembut di puncak kepalaku. Aku hanya diam. Kurasakan ada yang basah di pipiku. Deru mobilnya terdengar meninggalkan rumah kami. Aku merogoh sakuku, mengeluarkan ponselku. Kutekan beberapa nomor yang kuhapal di luar kepala. Aku menghubungi Jong Woon.
‘Tuuutt tuutt’
“Yeoboseyo”
“Jong Woon ah, mianhae. Aku egois, kapan kau akan kembali?”
“Mwo? Yeoboseyo? Apa kau mencari Yesung hyung?”
“Yesung?”
“Maksudku Jong Woon hyung? Dia tadi keluar dan meninggalkan ponselnya. Apa ada yang ingin kau sampaikan? Aku dongsaengnya.”
“Ah Jong Jin ah, aku noona. Kau bersama Jong Woon?”
“Aniyo. Aku bukan Jong Jin. Aku Kyuhyun. Cho Kyuhyun.”
Aku tertegun.
“Kau dongsaengnya?”
“Ne, kau bisa menitipkan pesan padaku.”
Omo, siapa dia? Dongsaeng Jong Woon? Apa eomma atau appa menikah kembali saat aku koma? Apa aku mempunyai saudara lain. Aku menatap mata eommaku yang terlihat bingung melihatku menangis.
“Eomma, bagaimana bisa eomma menikah lagi? Atau appa yang selingkuh?

TBC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar