11.27.2012

[FF] My Secret Twin {Yes, She Is My Twin}


Title        : My Secret Twin
Genre     : Family, Family, Rommance
Rating     : T
Cast       : Kim Ji Woon (OC)
                Kim Jong Woon
                Kim Jong Jin
                All Super Junior member
                *misterius namja*


-*-*-*

Author POV

Seorang namja menyambar jaket kulitnya seraya berlari keluar dari kamarnya.
Hyung, eodigayo?” namja lain dengan spatula di tangannya menyapa namja berambut  blonde tersebut. Tapi yang dipanggil tak acuh.
Namja itu terus berlari menuju tempat parkir. Dipacunya mobil putih miliknya.
“Ji Woon-ah”

Yesung POV

Aku terus memacu mobilku menuju satu tempat, rumah sakit. Aku masih terngiang dengan perkataan Jong Jin di telpon tadi.
“Hyung, Ji Woon noona membuka matanya. Datanglah ke rumah sakit sekarang. Eomma dan Appa sudah ada di sini.”
Sederet kata itulah yang memenuhi pikiranku saat ini. Ji Woon-ah, benarkah kamu membuka matamu? Benarkah kali ini kau benar-benar hidup? Apa kau kembali untuk kami? Kau tak akan meninggalkanku kan?
‘Brakkk’
Kututup pintu mobil dengan keras. Aku berlari menuju ruang isolasi yang selama 8 tahun ini dihuni oleh Ji Woon. Kulihat Jong Jin menungguku di luar kamar. Dia tersenyum melihatku.
“Hyung.”
Aku menghampirinya. Matanya sembab tapi wajahnya sumringah.
“Jong Jin-ah, apa yang terjadi?” aku memegang bahunya. Dia menarik tanganku untuk masuk ke dalam.
“Jong Woon-ah.”
Eomma menghampiri dan memelukku.
“Ji Woon sadar,” eomma menangis seraya memelukku. Aku terpaku melihat sesosok tubuh yang terbaring lemah di ranjang putih penuh dengan selang tersebut. Aku melepas pelukan eomma dan menghampiri yeoja yang ada di ranjang itu. Yeoja itu terdiam. Dia menatapku bingung.
“Ji Woon-ah? Benarkah kau bangun,” tanganku terulur untuk menyentuh wajahnya. Tanganku bergetar, mataku memanas seakan tak percaya kalau hari ini akan tiba.
“Andwe.... Nuguseyo,” dia menampik tanganku. Dia terlihat takut. “Eomma aku takut.”
Aku kaget. Apa maksudnya. Kenapa dia tak mengenaliku?
“Ji Woon ah, aku Jong Woon. Kau tak mengenaliku?” aku merasa ada cairan yang meleleh pelan di pipiku.
“Hyung, dia tak mengenaliku juga. Dia menolakku. Dia juga menampik tanganku,” Jong Jin merangkulku dan menangis pelan. Hatiku mencelos. Ada apa ini sebenarnya? Apa mungkin dia mengalami amnesia?
“Eomma, Appa dimana nae dongsaeng? Dimana Jong Woon, kenapa mereka tak datang juga?” kami tersentak kaget. Bingung dengan apa yang dikatakannya.
“Ji Woon-ah, aku Jong Woon. Dongsaeng kita juga ada di sini. Kenapa kau mencari Jong Jin,” aku mengguncang badannya pelan. Dia terlihat semakin takut. Aku menghela napas. Aku keluar, memutuskan untuk menemui uisa. Tepat sebelum aku keluar, uisa masuk bersama dengan seorang yeoja muda memakai baju serba putih.

----------

“Ini wajar terjadi. Ji Woon-ssi koma selama 8 tahun. Dia tidak mengenali Jong Woon-ssi dan Jong Jin-ssi karena kalian berbeda dengan yang diingatnya. Saya harap kalian bisa menjelaskannya secara pelan-pelan,” aku terpaku mendengar penjelasan uisa. Aku menutup mataku dan menghela napas berat. Senyuman mengembang di bibirku. Terimakasih Tuhan, Kau telah memberiku kesempatan  untuk menjaganya, menjaga separuh nyawaku.
“Hyung, apa yang harus kita lakukan?” aku menoleh pada Jong Jin. Raut putus asa tergambar jelas di wajahnya.
“Biar hyung yang mencoba menjelaskan,” aku menepuk pundaknya pelan. Dia mengangguk padaku. Aku mengajaknya untuk masuk ke dalam ruangan Ji Woon kembali. Saat aku masuk, kulihat Ji Woon tengah duduk bersandar. Dia tampak sangat lemah. Ingin sekali aku memeluknya dan menangis. Aku benar-benar merindukannya.
“Ji Woon-ah,” aku memanggilnya pelan. Dia tidak setakut tadi, mungkin karena eomma di sampingnya. Aku mendekat dan duduk di dekat eomma.
“Ji Woon-ah, gwaenchana?” tanganku bergetar, berusaha menyentuh pipinya. Aku masih tak percaya dia sadar.
“Nuguseyo?” dia memundurkan wajahnya takut-takut. Aku tersenyum. Aku merasakan cairan hangat itu kembali meleleh menelusuri pipiku.
“Na? Aku Jong Woon. Kau jahat sekali melupakanku,” aku berusaha untuk tersenyum. Dia terlihat semakin bingung.
“Ji Woon-ah, aku senang kau akhirnya bangun. Kenapa kau tidur lama sekali sampai tak mengenaliku. Bagaimana bisa kau tidur selama 8 tahun? Kau tak kasihan pada separuh nyawamu?” aku berusaha menyentuhnya kembali. Aku hanya ingin memastikan ini semua nyata.
“Apa maksudmu? Aku tidur 8 tahun?” dia tak juga mengerti. Aku mendesah pelan. Aku meraih cermin yang ada di meja dan kusodorkan padanya. Dia terlihat kaget.
“Eomma !! Apa yang terjadi pada wajahku? Kenapa aku seperti ini. Siapa yang ada di cermin itu?” dia semakin terlihat takut. Aku menoyor pelan kepalanya yang membuahkan jitakan dari eommaku.
“Pabo !! Kau tak mengerti juga? Aku Jong Woon dan kau Ji Woon. Kini kita berusia 29 tahun. Ayolah,” dia terdiam.
“Koma?” aku mengangguk pelan.
“Bukankah kau mengalami kecelakan saat kau pulang kuliah. Ingatkah kau?” dia tetap terdiam.
“Eomma, apa benar semua ini?” matanya berair. Dia menangis. Aku hanya bisa mendesah pelan. Eomma mengangguk kecil.
“Dia benar Ji Woon-ah. Dia memang Jong Woon, saudara kembarmu. Dan namja yang sedari tadi tak mau berhenti menangis itu dongsaengmu, Jong Jin,” Ji Woon terdiam.
“Bolehkah sekarang aku memelukmu?” tanpa menunggu jawabannya, aku langsung memeluknya. Pelukan ini sangat kurindukan. Rasanya aku baru saja menemukan bagian dari hatiku yang selama ini menghilang. “Kenapa kau tidur lama sekali. Kau tau, aku sangat menderita karena kau pergi. Apa kau lupa kalau kita itu satu?”
Aku semakin erat memeluknya. Bahunya bergetar pertanda menangis. Dia melepas pelukanku.
“Kemarilah Jong Jin-ah,” Ji Woon memanggil uri dongsaeng. Jong Jin melangkah ragu pada kami.
“Nuna-ya,” Ji Woon merentangkan tangannya dan Jong Jin langsung menghambur ke pelukannya. Jong Jin menangis keras.
“Nuna, kau membuatku takut. Kenapa kau tak mengenaliku. Nuna, aku sangat takut kehilangan noona. Aku tak ingin noona meninggalkanku,” dia menangis keras seperti saat Ji Woon kecelakaan dulu. aku tersenyum.
“Yaa, Jong Jin-ah kau itu namja, jangan menangis seperti itu,” aku menjitak kepalanya pelan.
“Appo hyung”
“Eomma, Appa apa yang terjadi selama ini. Bagaimana bisa aku tertidur lama sekali,” Ji Woon terpekur. Dia meringis pelan. “Eomma ! Aku... aku tak bisa menggerakkan kakiku. Badanku juga sulit bergerak. Eomma aku kenapa?”
Ji Woon panik. Uisa mendekati Ji Woonie dan mengetuk pelan lututnya. Ji Woon sedikit meringis. Aku hanya diam, takut dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi.
“Gwaenchana Ji Woon-ssi. Kau tidak lumpuh. Kakimu dan badanmu hanyalah kaku karena terlalu lama tak bergerak. Kau hanya perlu terapi. Aku akan menyiapkan jadwal terapi untukmu,” aku mendesah lega karena jawaban Uisa tadi tak seperti yang aku pikirkan.
“Bagaimana keadaannya uisa?” tanyaku saat aku di luar bersama uisa tadi.
“Ini sebuah keajaiban. Aku pernah mendengar  cerita tentang seorang gadis yang koma 12 tahun dan dia bisa bangun kembali. Tak kusangka aku sendiri memiliki pasien seperti itu. Ini semua sungguh menakjubkan. Ji Woon koma 8 tahun dan dia sadar kembali. Padahal menurut pemeriksaanku, dia tak mempunyai harapan hidup. Tapi kini Ji Woon membuatku terpana. Keadaan tubuhnya juga membaik. Luka dalamnya juga berangsur sembuh. Kita perlu memantaunya seminggu ini. Mungkin dia bisa pulang secepatnya melihat keadaannya sekarang,” aku tersenyum sedikit.
“Syukurlah. Saya benar-benar senang mendengarnya. Terimakasih uisa, karena uisa sudah merawat Ji Woon selama 8 tahun ini. Saya tak akan pernah melupakan kebaikan anda,” aku membungkuk sebelum pamit untuk kembali ke kamar. Saat aku masuk kembali, kulihat Jong Jin tengah mengelap tangan Ji Woon.
“Ji Woon ah, apa yang kau rasakan sekarang? Kau tak lelah tidur selama itu?” tanyaku seraya duduk di sofa bersama Appa.  Eomma duduk di samping ranjang.
“Sejujurnya, aku masih bingung dengan ini semua. Aku merasa hanya sekedar tidur. Dan saat aku bangun, aku menemukan banyak orang baru. Aku seperti merasa terjebak di tubuh orang lain saat aku melihat ke cermin. Aku kangen dengan rumah kita. Appa kapan kita pulang ke Cheonan? Aku benar-benar merindukan rumah kita,” Appa hanya tersenyum mendengar pertanyaan Ji Woon.
“Kita sudah pindah ke Seoul chaggi. Jong Woon bekerja di Seoul. Kasihan dia kalau harus pulang pergi dari Seoul ke Cheonan.  Lagipula appa dan eomma punya bisnis di Seoul,” Ji Woon kembali terdiam.
“Sebenarnya berapa banyak peristiwa yang kulewatkan?” aku merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Ji Woon. Aku bangkit dan mendekatinya. Aku menepuk pundaknya pelan.
“Tenanglah, aku akan membantumu untuk mengenal dunia. Kau tak perlu sedih,” dia tersenyum menatapku.

‘Drrtt ddrrrtt’

kurogoh sakuku untuk ponselku.

From : Jungsoo hyung
Yaa ! Kau tak lupa dengan jadwal latihan kan? Kau belum memberikan kami part lagu untuk album repackage kita. Pulang sekarang, Ddangkoma sudah siap di penggorengan.

Aku melonjak. Panik. Seketika kusambar jaketku, kupakai topi dan kacamataku. Aku sedikit membenahi rambutku.
“Eomma, aku lupa ada jadwal. Ddangkoma sudah siap di goreng Jungsoo hyung jika aku tak pulang sekarang. Aish, aku benci pak tua itu. Argh aku ingin di sini lebih lama,” hatiku agak berat untuk meninggalkan Ji Woon yang baru tersadar.
“Gwaenchana adeul. Kamu pergi saja sekarang. Kasihan dongsaeng dan hyungmu. Mereka pasti menunggumu daritadi. Sampaikan salam eomma untuk mereka. Biar kami yang menjaga Ji Woon,” eomma mengelus kepalaku pelan. Ah eomma kau memang selalu bisa menenangkanku. Aku mengangguk kecil.
“Ya yeoja jelek, aku pergi dulu ya. Kau harus jaga dirimu baik-baik. Cepat sembuh arrachi. Aku akan usahakan untuk secepatnya kembali ke sini. Turuti perkataan dokter. Awas kalau kau kerasa kepala dan coba-coba berbohong. Aku akan tau semuanya,” aku kembali menoyor kepalanya pelan. Dia hanya meringis pelan. Bergegas aku pergi meninggalkan tempatku.  Langkahku terhenti saat hendak membuka pintu. Sebuah pikiran terlintas di benakku. Aku berbalik dan menghadap appaku.
“Appa, bisakah Ji Woon menyembunyikan statusnya sebagai kembaranku? Bisakah hanya keluarga kita dan orang tertentu saja yang tau kalau aku punya kembaran? Bisakah kita menyembunyikan status itu dari siapapun termasuk Super Junior?” appaku sedikit tersentak, begitu juga eomma dan Jong Jin. Ji Woon menatapku marah. Aku dapat merasakan kalau dia sedih dengan apa yang kukatakan.
“Yaa hyung apa maksudmu? Kau malu mempunyai kembaran? Apa itu akan menurunkan popularitasmu?” aku terdiam sejenak.
“Anio. Aku sama sekali tak memikirkan itu. Hanya saja, aku tak ingin Ji Woon kehidupannya terusik. Aku tak ingin orang-orang memanfaatkannya. Aku ingin dia mempunyai privasi dan kebebasan dalam kehidupannya. Apalagi kalau sampai media tau, Ji Woon pasti tak akan memiliki ruang gerak. Pasti akan banyak yang memburu beritanya. Aku ingin Ji Woon mengalami kehidupan normal. Aku tak ingin dia seperti Jong Jin. Katakan padaku Jong Jin, apakah kau selama ini merasa hidup bebas?” aku menatap lekat ke mata sipit dongsaengku. Dia mendesah kecil.
“Anio hyung. Kau benar. Baiklah aku setuju,” dia mengangguk pelan. Ji Woon hanya memandang kami bingung.
“Baiklah aku berangkat sekarang. Percayalah, suatu saat jika waktunya tepat, aku akan mengungkapkan jati diri Ji Woon. Untuk semantara ini, aku ingin Ji Woon fokus untuk pemulihannya. Aku ingin Ji Woon menyesuaikan diri dengan dunia sekarang. Aku tak ingin dia terusik untuk sementara waktu. Tapi yakinlah bahwa ini tidak selamanya,” aku mengangguk kecil dan bergegas meninggalkan mereka. Aku tersenyum saat menutup pintu mobilku dari dalam.
“Ji Woon-ah, welcome back.”



TBC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar