7.14.2012

[FF] Let Me Go/Part 3-END


Title    : Let Me Go
Author: Santi Aprilliani
Genre  : Mistery, rommance      
Rate    : AG
Length: 3 of 3
Cast    : Jung Ha Mun (fiction)
              Kim Young Woon as Kangin
              Kim Hee Chul as Jung Hee Chul (Oppa Ha Mun)
              Other Super Junior member
 Disclaimer : Tak ada kata menjiplak, jadi FF ini adalah hasil olah pikir otak saya yang rada bermasalah karena terlalu banyak berimajinasi. Apalah.

Tok tok tok...

Hy readersdeul. Akhirnya saya bisa berhasil menyelesaikan FF ini hingga tak terbengkalai. Banyak FF project dalam kompi yang terbengkalai. Tapi yang udah di publish, kebanyakan bisa ampek selesai kok. ^^ Keep RCL. HAPPY READING !!!

13131313131313131313



Author POV

“Kau membuatku malu oppa. Kenapa kau cerewet sekali. Sebenarnya yang hamil aku atau kau,” Ha Mun menggerutu saat memasuki rumahnya. Di belakangnya, Heechul terengah-engah menyusulnya. Lagkah Ha
Mun terhenti saat dia mendapati semua member super junior berkumpul di ruang tamu kecuali Yesung dan Ryeowook.
“Ha Mun ah, kau sudah pulang,” sapa Eeteuk. Ha Mun hanya mengedikkan bahu bingung. Tiba-tiba Eeteuk mengeluarkan buku kusam dan menyodorkannya di depan Ha Mun. sontak mata Ha Mun membulat.
“Apa yang kalian lakukan? Lancang. Kalian pikir kalian sekarang tinggal dimana? Kembalikan buku milikku,” tangan Ha Mun berusaha meraih buku itu. Namun Eeteuk lebih cepat menarik buku itu. Mata Ha Mun memerah karena marah. Sebenarnya dia lebih takut jika semua yang di simpannya akan terbongkar.
“Park Jung Soo, kembalikan milikku,” kali ini suara Ha Mun lebih keras.
“Siapa yang mengajarimu bersikap tak sopan seperti ini?” bentak Heechul pada dongsaengnya.
“Aku akan mengembalikan buku ini kalau kau sudah menjelaskan padaku buku apa ini,” kata Eeteuk tajam.
“Kau pikir kau siapa? Buat apa aku harus menjelaskan hal konyol padamu. Serahkan bukuku padaku. Dan lagi, kau sangat tak berhak untuk masuk ke kamarku sembarangan,” kali ini bulir-bulir airmata Ha Mun sudah runtuh mengiringi luapan kemarahannya.
“Kenapa? Kau takut ketahuan. Kami sudah tau Ha Mun ah. Kami tau siapa yang ada bersamamu. Kenapa kau lakukan tindakan bodoh seperti ini. Kenapa kau memanggil Kangin. Apa kau tak pernah memikirkan apa yang akan terjadi nanti,” Eeteuk berdiri menyejajari Ha Mun.
“Apa peduli kalian? Kalian tak punya secuil hak pun atas apa yang kulakukan. Urus saja urusan kalian. Kalian tau, Kangin oppa bahagia karena dia bisa tetap bersamaku. Kenapa kalian tak terima hah? Wae? Wae?” Ha Mun terus meluapkan seluruh emosi yang telah dia pendam. Rasa frustasi dan depresi yang selama ini dia tutup rapi.
“Kau salah Ha Mun ah. Dia sama sekali tak bahagia. Dia menderita,” refleks semua menoleh ke sumber suara. Terlihat Yesung yang dipapah Ryeowook.
“Kau mau apalagi Kim Jong Woon,” teriak Ha Mun.
“Kalau kau pikir Kangin bahagia karena ada di sini, kau salah. Dia sangat menderita ada di sini. Kau harus bisa melepasnya,” kata Yesung lemah.
“Kau..... achhh...” Ha Mun memegangi perutnya dan terduduk di lantai. “Oppa jebal, nomu appo. Akkhh...”
Cairan merah meluruh di sepanjang kaki Ha Mun. Kontan saja semua panik.
“Ha Mun ah, gwaenchana? Ada apa denganmu?” Heechul meraih kepala Ha Mun yang terus-terusan memegangi perutnya. “Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian diam saja. Cepat siapkan mobil.”
Bergegas mereka membawa Ha Mun ke rumah sakit.

---------------

“Dia baik-baik saja. Yang dia butuhkan hanyalah istirahat. Jangan biarkan dia stress, karena itu akan memicu pendarahan lagi. Dia juga butuh makanan yang bergizi untuk pertumbuhan janin dalam kandungannya,” kata seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan Ha Mun. Semua membungkuk dan berterimakasih pada dokter tersebut. Mereka bernapas lega. Dokter dengan jas putih dan stetoskop yang tergantung di sakunya itu pergi meninggalkan keduabelas namja yang tengah terdiam dengan pikiran masing-masing.

‘Cklek’

“Oppa”
Serentak semua menolehkan kepala ke arah pintu ruangan Ha Mun. Ha Mun tersenyum dengan raut wajah pucat.
“Aku ingin berbicara dengan Yesung oppa. Bisakah?” kata Ha Mun lirih.
“Waeyo?” sahut Yesung bingung. Tapi Ha Mun tak mengindahkan kebingungan Yesung. Dia langsung menghilang ke dalam kamarnya. Yesung mengedikkan bahunya dan menoleh pada Heechul seakan bertanya ‘Apa yang harus aku lakukan’.
“Masuklah” ucap Heechul diiringi senyum kecil. Dengan ragu, Yesung melangkah masuk ke ruangan Ha Mun. Yesung melihat Ha Mun tengah duduk bersandar di ranjang rumah sakit. Selang infus terpasang rapi di tangannya. Rambut gelombangnya sedikit berantakan. Langkah kecil Yesung seakan memecah kesunyian yang tercipta dalam ruangan itu.
“Oppa, darimana oppa tau kalau di rumahku ada Kangin oppa,” ucap Ha Mun pelan tanpa menatap lawan bicaranya. Yesung mendekati Ha Mun dan duduk di samping ranjangnya. Tangannya dia lipat di dada. Matanya tak lepas menatap lekuk wajah sendu yeoja yang telah dia anggap dongsaengnya.
“Jika aku bilang kalau aku punya bakat untuk mendeteksi serta berkomunikasi dengan roh, apa kau akan percaya? Ya Ha Mun ah, aku bisa merasakan arwah. Mungkin kalian biasa menganggapnya sebagai indra keenam,” Yesung tersenyum kecil, tapi beberapa saat kemudian senyumnya hilang berubah dengan kesedihan. “Ha Mun ah, kenapa kau menahan Kangin di dunia ini? Apa kau tak tau kalau dia sangat menderita.”
“Mianhae oppa. Aku yeoja lemah. Aku tak tau jika semua menjadi di luar dugaanku. Aku benar-benar tak bisa melepasnya oppa. Melepasnya sama dengan membunuhku oppa. Aku tak tau buku itu darimana. Yang jelas, buku itu sudah membuatku kembali bersama Kangin oppa,” setetes cairan bening merembes di pipi langsat Ha Mun.
“Kau salah Jung Ha Mun, ah ani Kim Ha Mun. Kangin akan menghilang jika dia terus berada di sini. Kau sama saja membunuhnya jika tetap menahannya,” kali ini ucapan Yesung naik satu oktaf dipenuhi ketegasan. Ha Mun kaku di tempatnya, mencerna apa yang baru saja dia dengar.
“Apa maksudmu oppa? Aku membunuhnya? Itu tidak masuk akal,” sanggah Ha Mun cepat.
“Kau tau, tadi saat kau pergi dengan Heechul hyung, aku berkomunikasi dengan Kangin. Kesedihan yang dipancarkan arwahnya menekanku kuat hingga membuatku nyaris pingsan. Dia berkata padaku jika dia tak segera kembali dalam 3 hari ini, arwahnya akan lenyap. Itu artinya kau tak akan pernah menemuinya. Di dunia ini ataupun di dunia arwah. Apa kau akan tetap membiarkan arwahnya menghilang tanpa jejak begitu saja? Apa kau tak ingin bertemu kembali dengannya jika nanti kau sudah ada di dunia yang sama dengannya? Kau pasti tak ingin dia lenyap kan. Kau harus ingat, kami kehilangan dia sama besarnya denganmu. Dia adalah saudara kami. Dongsaeng dan hyung kami. Kau jangan menganggap kami tidak terluka,” Yesung kembali diam. Keheningan menguasai ruangan itu seakan berlomba dengan detakan jarum jam dinding.
“Oppa, aku ingin sendiri. Semua terlalu berat untukku,” bisik Ha Mun lirih. Yesung menatap sejenak yeoja yang terlihat sangat kusut di depannya. Yesung mengangguk kecil.

0o0

Yesung POV

Hari ini Ha Mun akhirnya bisa keluar dari rumah sakit. Kami lega karena Ha Mun telah bisa menerima kenyataan tentang Kangin. Dia bersedia mengembalikan Kangin. Hari ini tepat hari ketiga seperti yang telah diucapkan Kangin kemarin. Ha Mun mengenggam bukunya dengan erat. Kami bersama-sama masuk ke kamar Ha Mun untuk menemui Kangin. *bayangin 14 orang ada dalam satu kamar, kekekeke*

“Oppa”
Kami kaget saat Ha Mun menjerit dan berkeliling kamar seperti mencari sesuatu. Dia menyibak selimut, gorden, melongok ke bawah kolong dan kamar mandi. Wajahnya seketika pucat dan penuh rasa ketakutan.
“Waeyo Ha Mun ah” Heechul hyung memegang lengan Ha Mun berusaha menyadarkannya.
“Oppa.... Kangin oppa hilang. Aku tak bisa melihatnya. Biasanya aku bisa langsung melihatnya. Apa dia... andweeee...” Ha Mun terisak di dada bidang Heechul hyung.

‘Deg’

Aish, anak ini belum pergi. Aku bisa merasakan kalau dia masih di sini, tapi arwahnya sangat lemah.
“Dia belum pergi. Kangin masih di sini. Teuki hyung, jebal jangan ganggu konsentrasiku seperti kemarin. Siwon ah, Shindong ah, tolong kalian tahan Teuki hyung. Jika nanti aku pingsan, kalian jangan panik. Arra,” aku hendak menutup mataku saat tangan Teuki hyung meraih kasar kerah bajuku. Dia menatapku penuh dengan luapan emosi atau...... kecemasan?? Entahlah, aku tak bisa membedakannya.
“Kau gila. Kita cari jalan keluarnya. Kau ingin mati huh? Kita akan keluar, dengan begitu kau akan tetap sadar,” Siwon dan Shindong menarik tubuh Teuki hyung. Mereka melakukan tugasnya dengan baik.
“Ani hyung. Firasatku mengatakan kalian harus tetap di sini. Aku tak apa-apa. Tenang saja hyung. Ini tak akan membunuhku. Ini semua demi Kangin. Apa hyung tak sayang padanya,” aku tersenyum kecut. Rontaan Teuki hyung sedikit mereda. Aku menoleh pada Sungmin dan Kyuhyun. “Kalian berdua, jangan pernah biarkan aku jatuh. Ryeowook ah, aku yakin kau tau apa yang harus kau lakukan.”
Aku tau yang kulakukan ini adalah hal gila. Meski tekanan roh Kangin tak sekuat kemarin, tapi di sini terlalu banyak orang, ini pasti akan sangat sulit. Aku hanya mengandalkan kenekatan saja. kututup mataku dan mulai mengontak Kangin. Begitu sudah berkontak dengan roh, aku tak akan mendengar apa yang ada di dunia nyata.

‘Kangin ah, aku tau kau masih ada di sini’
‘Hyung, aku sekarang lemah’
‘Wae? Apakah masih ada waktu?’
‘Tinggal sedikit hyung. Hyung, maukah kau membantuku menyampaikan sesuatu pada mereka?’
‘Apa itu?’
‘Sampaikan permintaan maafku pada hyungdeul dan dongsaengdeul’

Aku menghela napas, ini artinya aku harus memecah konsentrasi. Sebenarnya kalau boleh jujur, memecah konsentrasi akan membuat tenagaku semakin lemah, tapi ini harus kulakukan. Saat konsentrasiku kembali ke dunia nyata, aku mendengar suara ribut Teuki hyung dan isakan Ha Mun.
“Kangin minta maaf pada kalian semua,” kataku cepat.
“Ne Kangin ah, kami semua memaafkanmu,” yang kutau itu adalah suara Hankyung hyung. Aku buru-buru kembali konsentrasi pada roh Kangin.

‘Kau sudah dengar itu?’
‘Ne hyung. Gomawo’
‘Jadi, apa kau akan kembali sekarang?’
‘Kalau Ha Mun bisa melepasku’

Aku mulai terhuyung. Tapi aku merasa ada yang menopang tubuhku dan memegang erat bahuku. Philtrumku seperti ada yang mengusap. Sepertinya mereka melakukan apa yang kukatakan tadi.

‘Hyung, sampaikan pada istriku bahwa aku sangat mencintainya. Sangat sangat mencintainya. Katakan padanya untuk merawat bayinya’
‘Ne’

Kupecah lagi konsentrasiku. Baru kusadari sekarang kalau Teuki hyung kini tengah berteriak-teriak. Dan apakah ini suara tangisan Ryeowook? Kenapa dia ikut menangis.
“Ha Mun ah, Kangin sangat mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu. Dia ingin kau menjaga bayinya dengan baik. Jebal, relakan dia Ha Mun ah”
Aku kembali konsentrasi pada Kangin. Kurasakan jantungku mulai sakit. Aish, sial. Tubuhku juga melemas dan aku luruh ke lantai. Tapi aku tetap mencoba untuk berkonsentrasi mengingat ini belum berakhir.

‘Hyung, waktuku hampir habis’

“Jebal Ha Mun ah, relakan Kangin. Tulis di buku itu dan relakan dia,” aku merasa suaraku terdengar lirih. Aku sudah hampir menyerah. Energiku disedot sampai jantungku berdenyut nyeri tak terkendali. Berkali-kali kurasakan philtrumku di usap. Aku juga merasa ada yang menggoyang tubuhku dengan keras. Tapi aku tak sanggup memutuskan komunikasi ini karena aku terlalu lemah. Jebal Ha Mun ah, akhiri semua ini. Aku hanya bisa bergantung padamu. Jika kau terlalu lama, aku akan mati. Aku benar-benar sudah menyerah untuk memutuskan komunikasi roh ini.

‘Hyung, gomawo untuk semuanya. Aku akan pergi. Kumohon jagalah bayiku. Aku menyayangi kalian semua’
‘Ne Kangin ah, jagalah dirimu di sana’

Roh Kangin mulai menjauh. Sedikit demi sedikit tekanan rohnya mulai menghilang. Kurasakan jantungku seperti hendak meledak. Aku tak sanggup lagi untuk bangun. Teuki hyung, mianhae.

0o0

Author POV

Yesung mulai memejamkan matanya. Sementara Eeteuk tetap meronta dan berteriak karena menurutnya ini sangat berbahaya.
“Kalian gila? Lepaskan aku. Dia bisa mati. Dia ini kenapa nekat sekali,” Eeteuk terus meronta dari pegangan Shindong dan Siwon. Tapi apa daya, tenaga dua orang itu terlalu besar hingga Eeteuk tak bisa lepas sedikitpun. “Yaa, kalian sudah gila? Lepaskan aku.”
Semua memilih diam. Yang ada hanyalah teriakan Eeteuk dan isakan kecil Ha Mun yang menangis di dada Heechul.
“Kangin minta maaf pada kalian semua,” sebuah kalimat akhirnya meluncur dari mulut Yesung setelah dia terdiam cukup lama.
“Ne Kangin ah, kami semua memaafkanmu,” ucap Hankyung cepat. Dia ingin semua ini cepat berakhir. Dia tak ingin ada dongsaengnya yang terluka kembali.
Yesung kembali diam. Beberapa saat kemudian Yesung mulai terhuyung dan hampir jatuh. Dengan cekatan Kyuhyun menahan tubuh Yesung dari belakang dibantu juga oleh Sungmin. Darah mulai keluar dari hidung Yesung.
“Ryeowookie, hidungnya,” kata Sungmin yang membuat Ryeowook sedikit terlonjak. Dengan cepat Ryeowook mengelap philtrum Yesung. Raut kecemasan tergambar jelas di wajah Ryeowook.
“Hyung, cepatlah kumohon,” kini Ryeowook mulai menangis melihat hyung kesayangannya tak juga mengakhiri apa yang dia lakukan.
“Kalian gila, cepat akhiri semua ini. Bangunkan Yesung. KIM JONG WOON AKU AKAN MEMBUNUHMU KALAU KAU TAK JUGA MENGAKHIRI KENEKATANMU,” Eeteuk berteriak frustasi. Rontaan Eeteuk kembali menguat hingga donghae harus membantu Siwon dan Shindong menahannya.
“Ha Mun ah, Kangin sangat mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu. Dia ingin kau menjaga bayinya dengan baik. Jebal, relakan dia,” suara Yesung kembali terdengar. Tapi kali ini dengan sedikit serak. Ha Mun hanya bisa menangis menahan perih.
Tiba-tiba tangan kiri Yesung menekan dadanya. Dia terduduk di lantai. Berat tubuhnya kini meluruh ke lantai, membuat Kyuhyun dan Sungmin yang menopangnya menjadi kewalahan dan akhirnya ikut duduk di lantai. Darah yang keluar dari hidung Yesung mulai menderas.
“Jebal Ha Mun ah, relakan Kangin. Tulis di buku itu dan relakan dia,” kali ini suara Yesung benar-benar sudah mengecil.
“Noona, kami mohon. Demi Kangin hyung dan Yesung hyung,” kata Kibum seraya menyodorkan buku penyebab semua masalah ini terjadi. Dengan masih menangis, Ha Mun menerima buku itu.
“Hyung, ireona. Cukup semua ini. Kau terlalu nekat,” Ryeowook yang melarang semuanya untuk mengganggu Yesung, kini dia sendiri yang menggoyang tubuh Yesung. “Hyung, bangunlah. Yesung hyung tidak pernah seperti ini. Hyung, kau terlalu nekat. Omona, Yesung hyung hentikan. Darahmu terlalu banyak keluar. Kau bisa mati. Hyung, ireona.”
Seketika semua menjadi panik mendengar apa yang dikatakan Ryeowook. Sekarang mereka seakan berlomba membangunkan Yesung. Namun apa daya, yang dibangunkan tak bergeming dari posisinya-tangan tetap terangkat seakan berusaha menangkap sesuatu dengan mata terpejam sempurna-. Sementara darah yang keluar dari hidung Yesung tak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti. Kini tisu merah sudah berserakan di lantai.

‘Kembalikan Kim Young Woon ke dunianya. Aku merelakannya.’

Dengan bimbingan Heechul, Ha Mun menulis kembali kalimat permohonan di buku itu-dengan menangis keras-. Di saat sapuan tinta pada lembaran kertas kusam berakhir, tangan Yesung perlahan terkulai lemas. Dia tak juga membuka matanya. Dia hanya diam tak menyahut orang-orang yang tengah membangunkannya.
“Siapkan mobil. Kita harus membawanya ke rumah sakit,” perintah Siwon cepat.

----------

“Dia telah melewati masa kritisnya. Tadi dia sempat mengalami pendarahan dalam. Tapi kami sudah menghentikannya dan mengeluarkan darah yang keluar di dalam tubuhnya. Kalian bisa menengoknya, tapi jangan biarkan dia banyak bergerak. Luka dalam tubuhnya bisa berdarah kembali,” ucap uisanim yang di sambut anggukan kepala dari kesebelas namja dan 1 yeoja tersebut.
Setelah uisanim pergi, mereka bergegas masuk ke ruang VVIP dengan nomor 122 tersebut. Saat mereka masuk, Yesung tengah memandangi selang infus yang ada di tangannya. Yesung menoleh saat mendengar suara pintu di buka. Dia melempar senyum menenangkan pada mereka.
“Yaa, kenapa dengan mata kalian? Siapa yang berkelahi? Aish, sepertinya aku melewatkan sesuatu. Ryeowook ah, kau jelek sekali dengan mata lebam seperti itu. Apa kau baru saja dipukul,” tanpa menjawab apapun yang dikatakan oleh Yesung, Ryeowook memeluk Yesung erat dan menangis dengan keras.
“Hyung, kenapa kau nekat sekali tadi. Aku sangat takut tadi. Kenapa kau melakukan hal bodoh seperti tadi? Apa kau ingin kami semua mati karena cemas?” kata Ryeowook di sela-sela tangisannya.
“Aigoo~~ Gwaenchana Ryeowook ah. Aku masih hidup kan sampai sekarang. Kangin sudah pergi dengan tenang. Dia bilang, kita harus menjaga anak yang tengah dikandung Ha Mun. Hey, berhenti menangis Ryeowookk ah,” Yesung yang kini sudah terduduk, memegang bahu Ryeowook yang masih saja terisak kecil. Yesung benar-benar menyayangi dongsaengnya yang satu ini.

‘Pletak’

Sebuah jitakan mendarat mulus di kepala besar Yesung.
“Appo hyung,” Yesung mengelus pelan puncak kepalanya yang terkena jitakan Eeteuk.
“Kalau kau melakukan hal seperti tadi, maka aku tak segan-segan membunuhmu sebelum kau sempat meneteskan darah dari hidungmu. Kau mengerti Kim Jong Woon,” ucapan Eeteuk dipenuhi tanda deathglare. Yesung hanya tersenyum kecut mendengar pengakuan dari hyung yang paling dia hormati tersebut. Dalam pikirannya, kembali berkelebat saat Kangin mengucapkan selamat tinggal tadi. Matanya menerawang berusaha mencari keberadaan roh Kangin meski dia tau ini akan sia-sia. Dia hanya merasa ada satu bagian yang melompong dalam hatinya.

-------------

-6 months later-

Dua belas namja dan satu yeoja dengan perut membesar, tengah terdiam memandangi nisan batu di depannya. Mereka berdiri mengelilingi batu nisan tersebut. Mereka berusaha menghirup hawa sejuk pemakaman yang menenangkan *atau menyeramkan?*
Ha Mun meletakkan satu tangkai bungan mawar putih di atas makam bertanda ‘Kim Young Woon’ itu.
“Yeobo,  satu bulan lagi bayi kita akan lahir. Aku sudah tak sabar menantinya. Kau tau, dari hasil pemeriksaan, akan ada raccoon kecil yang menemaniku nanti. Kuharap dia akan tampan dan kuat seperti appanya,” semua tersenyum kecil mendengar apa yang terucap dari mulut Ha Mun.

‘Brugh’

Siwon kaget saat tiba-tiba Yesung menubruknya dengan mata terpejam dan terangkat. Semua mendadak panik.
“Yaa, jangan mulai. Kau masih ingat peringatanku? Cepat bangun. Jangan kau teruskan,” Eeteuk menggoyang tubuh Yesung yang kini bersandar pada Siwon.
“Hyung, Kangin ada di sini,” bisik Yesung lirih.

END

Hoaaaaaaa...... akhirnya ni FF kelar juga. Aku geli sendiri dengan fantasiku. Bagaimana readersdeul. Mianhae jika membosankan. Aku hanya mencoba yang terbaik, ceilah cuit cuit....
Seperti biasa, RCL. Kekekeke. Request FF boleh, asal dari fandom Suju atau FT Island. Kekeke.
Gomawo readersdeul yang uda baca, like, dan komen.  Sampai jumpa di FF selanjutnya. Keep Writing and Reading. \^.^/


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar