5.18.2012

[FF] I Won't Hurt You If I Can/Sequel SJ Couple/SiWoon/Part 2-End

Title      : I Won't Hurt You If I Can
Author  : Santi Aprilliani   
Genre   : Romantic, Family, Friendship.
Rating   : PG 15
Cast     : Choi Si Won
              Park Hae Woon (Fiktif)
              Park Yun Woo (Fiktif)
              Other SuJu member and Couple
Disclaimer : All Super Junior member adalah milik Tuhan. Mereka kebanggaan ELF. Tapi Yesung hanya milikku !!! #Plak#





0o0

Siwon POV
“Euunghh”
Aku menggeliat bangun. Kepalaku pening. Apa yang terjadi? Aish, tadi malam sepertinya aku mabuk.
Kuedarkan pandanganku. Rupanya aku telah ada di kamar. Kuputar otakku memikirkan apa yang terjadi semalam. Nihil. Aku tak ingat apapun. Hari ini, aku harus memilih. Siapa yang akan kupilih? Kenapa appa kejam sekali. Aku tak mungkin meninggalkan hyungku. Aku tak mungkin meninggalkan ELF yang terus mendukung kami. Aku juga tak mungkin meninggalkan appa dan eomma. Siwonest, aku tak bisa hidup tanpa mereka. Tapi...
FLASHBACK
Aku  menanti Hae Woon yang tengah bersiap. Hari ini kami akan berkencan. Yah, hanya di waktu luang aku bisa menemaninya. Yun Woo terus-terusan memandangiku.
“Yaa, wae gurae?”, aku menegurnya. Sangat risih diperhatikan seperti itu.
“Ani. Hyung, apakah kau benar-benar mencintai nunaku?”, dia menatapku serius.
“Tentu saja. apakah kau masih ragu. Sudah berapa kali aku bilang? Aku ingin menjalin hubungan serius dengan nunamu. Waeyo?”, kataku.
“Hyung, jangan kau sakiti nunaku. Kau tau, baru kali ini nuna mau membuka hatinya kembali. Sebelum buta dulu, nuna adalah orang yang sangat ceria. Dia mempunyai namjachingu yang baik. Mereka telah sepakat akan menikah. Tapi saat dia kecelakaan dan buta, namja itu meninggalkan nuna karena malu. Dia malu mempunyai pasangan buta. Aku hanya tak ingin nuna jatuh untuk kedua kalinya. Aku benar-benar sayang dengan nuna. Dia segalanya bagiku. Dialah dulu yang membiayaiku. Dia yang merawatku dari kecil, karena orangtua kami telah meninggal dari kami masih kecil. Jebal, jangan sakiti nuna.”, matanya berkaca-kaca.
“Ne, aku berjanji akan melindungi dia. Percayalah padaku.”, kugenggam tangan Yun Woo untuk meyakinkannya.
FLASHBACK END

Memori itu kembali melayanng-layang di otakku. Siapa yang akan kupilih. Entah ide gila itu muncul darimana. Aku terlalu frustasi untuk memikirkannya.
“Mianhe hyung, mianhe appa, aku akan memilih jalan ini. Aku akan menyembunyikan hubungan ini.”, kataku lirih. Kusambar kunci mobilku. Kubuka pintu kamarku. Pandanganku nanar melihat apa yang ada diluar kamar. Hyung dan dongsaengku tidur di sofa dan lantai. Apa yang mereka lakukan di sini. Kutinggalkan mereka dan aku bergegas memacu mobilku ke rumah Hae Woon. Kulirik jam tanganku. 03.03 KST. Tak kupedulikan waktu sekarang. Kuhentikan mobilku tepat di depan rumah Hae Woon. Rumahnya benar-benar lengang.
‘Tok tok tok’
Kuketuk pintu rumahnya beberapa kali.
‘Klek’
Yun Woo membukakan pintu rumah.
“Neo !!!”
Dia hendak menutup pintu rumah, tapi buru-buru kuhalangi.
“Jebal Yun Woo ah, aku ingin kau mendengar tujuanku kesini.”, kataku seraya memaksa masuk. #Woe bang, ntu rumah orang#
“Yaa, siapa kau. Beraninya kau masuk rumah tanpa ijin.”, kucekal erat tangannya.
“Jebal, dengarkan aku. Aku tak pernah ingin menyakiti Hae Woon. Bagiku dia adalah porosku. Kumohon, dengarkan aku. Aku benar-benar ingin melindunginya. Aku tak ingin dia terluka. Aku benar-benar tak ingin dia sedih. Aku ingin menjadikan dia milikku seutuhnya.”, kutatap tajam matanya.
“Yun Woo ah, wae gurae?”, aku dan Yun Woo menoleh saat Hae Woon keluar dari kamarnya.
“Yun Woo ah. Ijinkan aku menikahi nunamu.”, kembali kutatap mata Yun Woo. Berharap dia akan mengerti apa yang kumaksud.
“Mwo?? Apa yang kau katakan. Kau sudah bosan hidup hah?”, dia mengibaskan tanganku dan meraih kerahku. Kucekal tangannya yang berusaha mencekikku.
“Ani, aku serius Yun Woo ah. Aku benar-benar ingin melindungi nunamu. Hanya itu satu-satunya cara. Aku ingin dia menjadi anaeku.”, aku masih berusaha melepas cengkeramannya.
“Kau pikir aku akan percaya. Kau tak pernah berpikir apa yang akan dilakukan orangtuamu hah? Kau pikir aku akan membiarkan nunaku hancur?”, matanya memerah marah.
“Apa yang kalian lakukan.”, kulihat Hae Woon berpegangan pada meja. Tubuhnya bergetar menahan tangis.
“Aku tak pernah berpikir untuk menyakitinya. Dengan kami menikah, aku akan dengan pelan-pelan menjelaskan pada orangtuaku bahwa inilah jalanku. Jebal. Aku yakin mereka akan luluh nantinya.”, kurasakan mataku memanas. Aku benar-benar kalut saat ini.
“Oppa, apa maksudmu?”, Hae Woon melangkah dengan merayap (?) tembok.
“Jebal Yun Woo ah.”, kukendorkan cekalanku. Begitu juga dengan Yun Woo. Dia menundukkan kepalanya.
“Baiklah. Lakukan. Jagalah nunaku. Jangan biarkan siapapun menyakitinya.”, dia memandangku serius.
“Ne, itu akan aku lakukan.”, kataku mantap. “Sekarang ayo kita ke gereja.”
“MWO????”, mereka berdua berteriak kaget.
“Waeyo. Kajja, kita tak punya banyak waktu. Kumohon.”, aku menghampiri Hae Woon. “Would you marry me?”
 “Can I?”, Hae Woon memegang tanganku. Tubuhnya bergetar karena menangis.
“Hyung. Kau gila? Sekarang masih tengah malam.”, kata Yun Woo. Tapi aku  lekas menyeret tangannya untuk mengikutiku.
----------------
“Dan kau Siwon-ssi, maukah kau menjadi suami Hae Woon-ssi. Menemaninya dalam keadaan senang, susah, sedih dan bahagia. Di saat sehat dan sakit?”, kata pendeta (mianhe, author gak terlalu ngerti gimana sumpahnya. Ini cuma nginget hehe. *deepbow*)
“Ne, saya bersedia.” Jawabku mantap.
““Dan kau Hae Woon-ssi, maukah kau menjadi istri  Siwon-ssi. Menemaninya dalam keadaan senang, susah, sedih dan bahagia. Di saat sehat dan sakit?” kata pendeta. Hae Woon menundukkan kepalanya. Dia diam. Aku menggenggam erat tangannya.
“Ne, saya bersedia.”, jawab Hae Woon. Dia meneteskan airmata.
“Sekarang kalian resmi menjadi suami istri. Silahkan pengantin pria mencium pengantin wanita.” Kata pendeta itu lagi.
“Gamsahamnida pak pendeta. Tapi  kami tak akan melakukannya. Terimakasih atas bantuan pak pendeta. Kami akan undur diri. Kami masih punya urusan yang lebih penting.”, kataku. Aku, Hae Woon dan Yun Woo membungkukkan badan kami.
“Mwo?? Aigoo... kau sungguh membuatku pusing. Pagi jam 03.35 dini hari membangunkanku. Dan sekarang kamu akan pergi. Ya sudah pergilah, semoga kalian bahagia. Aku akan kembali tidur.”, pendeta itu mengantar kami sampai ke depan. Kami membungkuk hormat pada pendeta budiman (?) itu.
“Hyung, sekarang kau telah memiliki nuna. Kumohon jagalah dia. Cepatlah selesaikan masalahmu. Aku tak ingin semua ini berlanjut.”, Yun Woo menepuk bahuku.
“Ne Yun Woo ah. Aku akan segera mengakhiri penderitaan ini.”, kugenggam erat tangan Hae Woon seakan tak ingin sedetikpun aku kehilangan jejaknya. Yun Woo merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kunci.
“Hyung, ini rumah kami di desa. Semenjak orangtua kami tiada, rumah itu tak pernah ditinggali, tapi kondisi ruamahnya masih layak. Kami masih sering kesana untuk membersikannya. Pergilah ke sana dulu. Tenangkan diri kalian.”, kata Yun Woo seraya menyerahkan kunci itu padaku.
“Ne, jeongmal gomawo. Kau mau mengerti posisiku.”, aku tersenyum padanya.
“Ini semua hanya demi nunaku.”, katanya membalas senyumku.
--------
‘Kriett’
Kubuka pintu rumah beraksen tradisional itu.
“Omo, aku mencium bau debu. Aish, padahal baru seminggu dibersihakan, tapi sudah seperti ini.”, Hae Woon berjalan sambil ngomel-ngomel tak jelas. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
“Sudahlah chaggi. Kita bersihkan ini sama-sama eotteohke?”, aku memeluk pinggangnya dari belakang.
“Ne, aku akan membersihkan dapur. Bagian itulah yang kuhapal.”, kata Hae Woon.
“Siap boz !!!”, kucium kilat pipinya. Tampak dia tersipu malu. Aku hanya bisa tertawa melihat reaksinya.
 Kami melewatkan malam yang tersisa dengan membersihkan rumah sederhana itu. Tak banyak yang dibersihkan, karena memang rumah ini masih dirawat dengan baik. Waktu menunjukkan pukul 06.25 KST. Kami telah selesai membersihkan rumah. Kulihat Hae Woon tengah duduk di meja makan, mengaduk-aduk tehnya.
“Omo. Buatku mana?”, aku mendekatinya.
“Aku hanya membuat satu. Aish, mianhae. Sebentar, akan kubuatkan untukmu.”, dia lekas berdiri. Wajahnya penuh peluh keringat.
“Ani. Gwaenchana. Aku ingin minum berdua denganmu.”, kugoda dia. Semburat merah seketika muncul di pipinya.
“Aku akan membuat satu lagi. Tunggulah.”, dia akan meninggalkanku, tapi buru-buru kucekal tangannya.
“Minumlah tehmu. Tapi jangan kau telan.”, kusodorkan the itu pada tangan Hae Woon.
“Waeyo?”, dia terlihat bingung dengan ucapanku.
“Sudahlah lakukan.”, kataku kembali. Dia menuruti permintaanku meski masih tersisa guratan kebingunga di wajahnya.
“Jamkkaman. Jangan kau telan. Aku hanya ingin kau berbagi minum denganku. Aku ingin kau memberikannya dengan mulutmu.”, kubisikkan kata-kata itu di telinganya.
Dia membekap mulutnya kaget. Kuraih tangannya perlahan dan kugenggam erat. Kusentuh bibirnya dengan bibirku. Kusedot (?) teh tadi dan kutelan. Manis benar-benar manis.
“May I?”, kataku pelan. Dia hanya menunduk malu. Hae Woon ah, aku akan menandaimu bahwa kamu hanya milikku. Kalian pasti tau apa yang terjadi selanjutnya.

0o0

Yun Woo POV
Kubuka mataku pelan. Aku menggeliat. Untung sekarang hari minggu. Aku bisa istirahat setelah insiden semalam.
‘Tok tok tok’
Aku kaget saat ada ketukan, ah anio tepatnya gebrakan pintu rumahku. Aish mereka tak sopan sekali. Bergegas aku beranjak membukakan pintu untuk tamu ‘tak sopan’ itu.
‘Klek’
“Kalian mencari sia.... uhuk uhuk uhuk.”, aku kaget saat seseorang menarik kerahku hingga terasa tercekik.
‘Braakk’
Aku dilempar ke lantai dengan keras. Nyeri.
“Katakan bren*s*k, dimana kau sembunyikan putraku. Idi*t kau, dimana yeoja buta itu.”, kulihat appa Siwon membungkuk di depanku.
“Aku tak tau. Kenapa kau pikir aku yang menculik anak kesayanganmu hah?”, aku berdiri melawannya. Darahku benar-benar mendidih.
“B*ngsat kau.”, dia melengos.
‘Buugghh bugh bugh bugh’
Aku tak tau berapa pukulan yang mendarat di badanku. Yang bisa kurasakan hanyalah nyeri dan bau amis darah yang aku tak tau muncul dimana.
“Kau masih tak mau ngaku hah?”, dia menjambak rambutku.
“Sudah kubilang, aku tak ada hubungannya dengan mereka.”, kataku pelan karena kehabisan tenaga.
‘Bugh bugh bugh bugh’
Kembali tubuhku dihujani pukulan bertubi-tubi. Aku merasa ada yang basah di pelipisku. Mulutku terasa asin.
“Yaa, hentikan ahjussi. Kau bisa membunuhnya. Kita tanya dia pelan-pelan. Anda hanya akan menambah masalah. Biarkan dia bercerita. Belum tentu juga Siwon pergi ke sini.”, samar kudengar seseorang mencoba membantuku.
“Kau jangan ikut campur. Siapa kau? Kau hanyalah leader yang gagal menjaga dongsaengmu. Berapa banyak dongssaengmu yang lepas pengawasanmu hah?”, appa Siwon hyung masih berteriak keras.
‘You have one mailbox. Tuuutt. Yun Woo ah, aku telah sampai di rumahmu. Di sini benar-benar sejuk. Kapan kau akan menyusul kami ke sini? Tenang saja, aku akan memberimu keponakan yang lucu. Nunamu masih tertidur. Mungkin dia kecapekan karena harus membersihkan rumah ini sebelum kami menguninya. Tuuutt’
Omo. Andwe !!! kenapa harus sekarang. Apa yang akan terjadi.
“Kau masih mengelak hah? Sekarang beritahu di mana Siwon.”, kembali appa Siwon menjambak rambutku.
“Molla.”, aku hanya menjawab sekenanya.
‘Bugh’
Aku merasa tengkukku terbentur benda keras. Dan semuanya menjadi gelap. Nuna, mianhe.

0o0

Siwon POV
Aahhh. Segar sekali rasanya mandi. Sekarang sudah hampir sore. Seharian kami hanya tidur sampai-sampai kami tak makan siang. Bergegas aku melangkah ke dapur. Aku ingin membuatkannya makanan. Dia masih tertidur pulas. Benar-benar polos seperti bayi. Aku masih sulit percaya bahwa dia sekarang adalah milikku. Aigoo~ apa yang kulakukan tadi. Aish.
Aku bingung hendak masak makanan apa. Ramyun saja sementara. Aku bingung. Semoga dia suka.
“Hoahem... oppa. Kenapa kau tak membangunkan aku?”, dia melangkah menuju dapur.
“Kau bangun? Gwaenchana. Kau terlihat lelah. Mianhae jika aku membuatmu lelah.”, kusentil hidungnya. Seketika mukanya memerah.
“Yaakk, dasar oppa yadong. Apakah monyetmu itu sudah menularimu virusnya ha? Berhenti membicarakan itu huh.”, dia membalikkan badannya.
“Aigoo~ jadi nona Choi Hae Woon ngambek? Mianhae. Gundae, gomawoyo chaggi.”, kupeluk dia dari belakang.
‘BRAAAKKK’
Aku dan Hae Woon tersentak kaget saat pintu rumah ini di dobrak keras. Ige mwoya.
“Tunggu disini. Aku akan periksa.”, aku mencium dahi Hae Woon untuk menenangkannya. Bergegas aku ke dapan.
“APPA !!! Omo Yun Woo. Apa yang appa laku.....”
‘Buughh’
“kan........”
Semuanya menghitam secara tiba-tiba.

0o0

Eeteuk POV
“Hyung, ireona. Siwon tak ada di kamarnya.”, aku menggeliat. Tunggu, Siwon? Seketika aku terduduk kaget.
“Mwo? Apa yang kau katakan hah? Aish, mungkin dia sedang jalan-jalan atau ke apartemennya.”, kataku berusaha menenangkannya.
“Ponselnya tak di bawa hyung. Dia hanya membawa mobilnya. Bagaimana ini?”, ryeowook terlihat khawatir. Tentu saja kami khawatir mengingat keadaannya tadi malam yang benar-benar berantakan.
‘Braakkk’
Kami menoleh saat pintu dorm dibuka dengan keras. Appanya Siwon?
“Siwon. Keluar. Appa sudah memberimu waktu. Sekarang kau harus tentukan. Keluar. Dimana Siwon hah?”, kami kaget karna appa  Siwon datang dengan muka memerah emosi.
“Jeseonghamnida ahjussi. Tapi Siwon tidak ada di dorm. Kami juga masih mencarinya.”, katakku pelan.
“Hah. Sudah kuduga dia akan keras kepala. Apa dia pikir bisa melawan appanya. Huh.”, kata appa Siwon. “Dia pasti ada di rumah yeoja buta itu.”
Appa Siwon berbalik keluar dorm. Yeoja buta? Sebenarnya siapa yeoja itu? Hae Woon itu siapa? Kenapa aku samasekali tak tahu.
“Hyung, sebaiknya kita ikuti appanya Siwon. Aku takut hal-hal yang tak diinginkan terjadi.”, kata Yesung padaku.
Kami akhirnya memutuskan untuk mengikuti appa Siwon. Setelah memacu mobil kami sekitar 15 menit, kami sampai di sebuah rumah sederhana. Mobil appa Siwon dan bodyguardnya telah terparkir rapi di halaman. Aku mendengar suara teriakan dan pukulan. Omo, apa ini? Kami bergegas masuk ke rumah itu. Kami kaget karna bodyguard appa Siwon memukul namja muda hingga namja itu lemas.
“Yaa, hentikan ahjussi. Kau bisa membunuhnya. Kita tanya dia pelan-pelan. Anda hanya akan menambah masalah. Biarkan dia bercerita. Belum tentu juga Siwon pergi ke sini.”, kataku pelan. Aku sedikit mulai mengerti duduk permasalahannya.
“Kau jangan ikut campur. Siapa kau? Kau hanyalah leader yang gagal menjaga dongsaengmu. Berapa banyak dongssaengmu yang lepas pengawasanmu hah?”, kata appa Siwon.
‘DEG’
Aku agak terhuyung karena kaget. Kata-kata itu benar-benar menusuk jantungku. Kembali terbayang wajah Hankyung dan Kangin. Lalu Siwon. Benarkah aku hyung yang gagal?
‘You have one mailbox. Tuuutt. Yun Woo ah, aku telah sampai di rumahmu. Di sini benar-benar sejuk. Kapan kau akan menyusul kami ke sini? Tenang saja, aku akan memberimu keponakan yang lucu. Nunamu masih tertidur. Mungkin dia kecapekan karena harus membersihkan rumah ini sebelum kami menguninya. Tuuutt’
Mailbox tadi sepertinya dari Siwon.
“Kau masih mengelak hah? Sekarang beritahu di mana Siwon.”, appa Siwon menjambak rambut namja itu.
“Molla.”, namja itu menjawab lirih.
‘Bugh’
Kembali sebuah pukulan mendarat di tubuh namja itu yang berhasil membuatnya pingsan.
“Cari alamat rumah bocah sialan itu. Sekarang. Dan bawa anak ini, aku harus menyingkirkannya.”, appa Siwon memerintahkan anak buahnya untuk menyeret namja itu.
Aku dan dongsaengku sepakat untuk mengikuti appa Siwon. Karena kami tau, appa Siwon akan berbuat nekat. Sepanjang perjalanan, aku memilih diam. kembali terngiang kata-kata appa Siwon.
“Kau jangan ikut campur. Siapa kau? Kau hanyalah leader yang gagal menjaga dongsaengmu. Berapa banyak dongssaengmu yang lepas pengawasanmu hah?”.
Kututup mataku. Buliran bening merembes dari dua mataku.
“Aku memang bodoh. Aku hanya leader yang gagal. Aku tak bisa menjaga dongsaengku. Hankyung, Kangin dan sekarang Siwon. Mianhae. Aku memang tak bisa menyandang gelar leader.”, kataku lirih. Kututup wajahku dengan kedua tanganku. Aku terisak pelan.
“Hyung, gwaenchana. Ini bukan kesalahanmu. Ini semua sudah takdir.”, kurasakan tangan mungil (?) Yesung menepuk bahuku.
Kurasakan mobil berhenti. Kami semua terdiam.
“Sepertinya kita sudah sampai hyung.”, kata Donghae yang menyetir. Bergegas kami turun. Bodyguard itu mendobrak pintu rumah beraksen tradisional itu. Bergegas kami mengikuti langkah kaki mereka. Keadaan namja yang dipukuli tadi benar-benar menyedihkan. Dia pingsan.
“APPA !!! Omo Yun Woo. Apa yang appa laku.....”
‘Bughh’
“kan....”
Omo !!! apa yang dia lakukan.
“Ahjussi. Apa yang anda lakukan. Dia putramu. Bagaimana bisa kau memukulnya sampai pingsan. Aku memang bukan leader yang baik. Tapi aku tak bisa membiarkan salah satu dongsaengku di sakiti.”, aku benar-benar emosi. Tangan KyuMin menahan tubuhku.
“Cih, siapa kau berani sekali. Apa kau lupa aku appanya hah? Berhenti berlagak pahlawan.”, aku benar-benar dibuat diam olehnya. Dia menoleh pada anak buahnya. “Kalian bawa bocah tengik ini dan yeoja buta itu pergi dari ini. Kirim mereka ke tempat yang aku maksud kemarin. Pastikan tak ada satupun yang tau. Aku percayakan tugas penting ini padamu. Dan kamu, bawa Siwon kerumah. Aku akan meminta pihak SM untuk mengijinkan Siwon tinggal di rumah, atau lebih baik dia keluar dari SM.”
Mianhae Siwon ah. Aku tak bisa membantumu. Mianhae, aku benar-benar leader gagal.

TBC
---------------
Part 4-END
---------------

~2 months later~
Author POV

“Hyung, kalian pulanglah dulu. Aku ingin ke suatu tempat dulu.”, kata Siwon pada Eeteuk.
“Hmmh, ne. Tapi, cepatlah pulang ke dorm. Kamu tak mau kan appamu tau kau keluyuran dan kau akan dikembalikan ke rumah? Dan satu lagi, no alcohol.”, kata Eeteuk.
“Arra hyung. Kau cerewet.”, kata Siwon kesal. Dia pergi meninggalkan member lainnya dengan langkah kesal. Dipacunya mobilnya menuju ke satu tempat. Yah, taman tempat dia dan Hae Woon dulu menghabiskan waktu. DULU. Yah sebelum appa Siwon menghancurkan semuanya. Sebelum appa Siwon merampas semua kebahagiannya.
“Hae Woon ah, bagaimana kabarmu?”, kata Siwon seraya menyentuh pelan bangku taman tempat ia biasa duduk bersama Hae Woon. Dia duduk dan termenung.
“Hae Woon ah, taukah kau apa yang terjadi padaku setelah kau pergi?”, Siwon menerawang apa yang telah terjadi 2 bulan terakhir ini. Tidak ada lagi Siwon yang religius. Yang ada setiap hari adalah soju dan club. Airmata dan emosi. Yang tertinggal hanyalah Siwon pemberontak. Siwon yang kosong tanpa isi. Yang paling dia sukai adalah menangis di bangku ini. Menangis di balik topi dan masker hitam miliknya. Menangis di balik kacamata besar hitam yang menyembunyikan manik matanya.
“Hae Woon ah, pogoshipo. Jeongmal pogoshipo. Jeongmalyo.”, dari hanya sebuah tetesan airmata berubah menjadi isakan kecil dan berakhir dengan tangis sesegukan.
‘Drrrtt drrrt drrt’
Diliriknya sekilas ponselnya yang bergetar. Sebuah nomor tak dikenal memanggil. Dengan enggan dia mengangkatnya. Dia masih terisak kecil saat mengangkat telpon itu.
“.....”
Hening. Tak ada pembicaraan. Siwon pun emosi.
“Yaa !! jika kau tak bicara apa-apa, aku akan menutup telponnya.”, kata Siwon emosi.
“Uljima hyung.”
‘Deg’
Siwon kaget dengan suara itu. Apakah dia mengenal suara itu? Tentu saja. Tangan Siwon bergetar.
“Yun Woo ah.... kau..”, kata Siwon terbata-bata.
“Ne hyung. Gwaenchana?”
“Yun Woo ah, ini benar kau? Sekarang katakan kau ada dimana? Aku akan menjemputmu. Jangan khawatir, aku akan pergi diam-diam. aku akan meninggalkan kehidupanku. Jebal katakan kau ada dimana. Jebal Yun Woo ah... “, dan pecahlah tangis Siwon. Entah apa yang dia rasakan. Kesedihan, kegembiraan, sakit hati, rasa rindu, semua bercampur aduk menjadi satu. Yun Woo hanya diam, membiarkan Siwon melimpahkan semua rasa sedihnya lewat tangisannya. Setelah dirasa tangisan Siwon cukup reda, Yun Woo mulai berkata.
“Hyung, uljimayo. Aku tak bisa mengatakan aku dimana. Mianhae. Kami masih menghormati appamu. Jeongmal mianhae. Kami hidup baik-baik saja disini. Aku menghubungimu karna ingin mengucapkan terimakasih. Terimakasih kau telah memberi warna pada nunaku. Terimakasih telah menCintainya dan melindunginya. Terimakasih karena kau telah memberikan nunaku sebuah malaikat yang akan terus membuatnya semangat dan bertahan dalam kehidupan kejam ini. Jeongmal gamsahamnida. Nunaku baik-baik saja. Setiap hari dia tak pernah melewatkan pagi tanpa berkomunikasi dengan malaikat kecilnya. Gomawoyo karna telah memberikan malaikat kecil untuk nunaku. 7 bulan lagi, aku akan menghubungimu kembali. Doakanlah agar malaikat kecilmu kelak akan setampan kau atau secantik nuna. Doakanlah agar dia memiliki bakat besar sepertimu dan kesabaran seperti nuna. Gureom, sampai sini dulu hyung. Sekali lagi terimakasih. Annyeong hyung. Jalga....”
Siwon hanya terpaku mendengar apa yang baru saja dikatakan Yun Woo lewat ponselnya. Pandangannya nanar.
“Aku.... appa.... Hae Woon hamil? Malaikat kecil.... eomma dan appa?”, gumam Siwon pelan. Sedetik kemudian Siwon tersadar. Seperti kesetanan, dia menghubungi kembali nomor tadi. Tapi berkali-kali dia hubungi, nomor itu tidak aktif sama sekali.
“Jebal Yun Woo ah, angkat !!!”, teriak Siwon frustasi. Dia berlari menuju mobilnya. Dipacunya mobilnya menelusuri kota Seoul sambil menangis. Hingga akhirnya dia menyerah. Diarahkannya mobilnya ke club terdekat. Dia memesan wine. Begitu wine tiba, dia langsung menenggak wine itu dari botolnya. Dia terus minum seraya menangis dan memanggil nama Hae Woon.
‘Drrtt drrtt’
Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.
From : Jung Soo hyung
Siwon ah, ini sudah melebihi batas waktu. Pulanglah atau kau akan diseret pulang appamu.

Siwon mendengus kesal. Dia membanting botol winenya dengan kesal. Setelah membayar minumnya beserta ganti ruginya, Siwon beranjak pulang. Dia membawa sebotol wine. Sesampainya di dorm, dia melangkah ke dormnya dengan sebotol wine yang terus ditenggaknya. Dia menekan password dorm dan melangkah masuk ke dorm.
“Omo Siwon ah, kau mabuk lagi? Aish.”, sambut Eeteuk saat Siwon muncul. Siwon berjalan sempoyongan karna memang dia sudh sangat mabuk.
“Jangan ikut campur hyung.”, bentak Siwon. Dia kembali menenggak winenya sambil berjalan meraba ke kamarnya. Tapi tangan Eeteuk merebut botol wine yang dibawa Siwon.
“HYUNG !!!”, Siwon berteriak keras. Beberapa member mulai ikut bergabung dengan perdebatan itu. Siwon mendorong tubuh Eeteuk keras hingga membentur tembok.
“Sudah kubilang jangan ikut campur. Apa kau pikir ini semua mudah huh. Apa kalian tau rasanya hatiku hah. Di sini hyung *nunjukjantung* di sini rasanya seperti terbakar. Ditusuk dengan jarum. Diiris dan dicabik dengan kasar. Sakit hyung. Sangat sakit. Yaaa, apa kalian tak tau huh. Kalian bisa bersenang senang dengan yeojachingu kalian. Yaa eunhyuk hyung, apa yang kau rasakan jika kau ditinggal hyekyung huh? Yaa kyu, andai appa Cinta tetap tak merestuimu, apa yang kau rasakan hah. Sakit. Terlalu sakit untuk digambarkan. Kalian tau hah, Yun Woo menghubungiku hari ini. Kalian tau hah, aku akan menjadi appa. Hyung aku akan menjadi appa, dan kalian akan menjadi ahjussi. Hyung katakan padaku, apa aku harus tertawa bahagia atau aku harus menjerit menangis hah. Katakan hyung. Kenapa dunia begini kejam. Waeyo hyung. WAE !!!!”, Siwon berteriak keras. Dia menangis dan terduduk di lantai. Eeteuk dan Yesung yang telah berurai airmata menopang Siwon yang telah lemas. Di bopongnya Siwon ke kamar dan direbahkannya dia dia kasur. Siwon masih meracau tidak jelas dalam tangisan lirihnya. Eeteuk menepuk-nepuk pelan kepala Siwon. Tak lama kemudian Siwon tertidur. Diselimutinya Siwon.
“Hyung.”, panggil Yesung diantara airmatanya.
“Yesung ah, cukup sudah. Aku tak bisa melihat dongsaengku seperti ini. Aku tak bisa diam.”,kata Eeteuk geram. Diambilnya ponselnya dan dia menekan sebuah deret nomor dan mendialnya.
“Yeoboseyo.... saya Park Jung Soo... animnida, Siwon sekarang sedang sekarat di dorm... kumohon datanglah ke dorm sekarang bersama istri anda... ne...”, tersirat sari mata Eeteuk sebuah kemarahan yang terpendam.
-------------
‘BRAAKK’
Pintu tertutup dengan keras. Sontak member yang ada di lantai 12 menengok kaget.
“Siwon ah, eodigayo?”, terlihat appa Siwon dan eommanya datang dengan mata memerah. Dengan kalap mereka membuka kamar Siwon.
“Siwon ah, gwaenchanayo?”, eomma Siwon mengelus pelan kepala Siwon yang tengah tertidur.
“Jadi dia tidur?”, tanya appa Siwon. Eomma Siwon hanya mengangguk kecil. Seketika muka appa Siwon memerah. Dengan geram dia melangkah keluar.
“Apa yang kau lakukan hah? Dimana sopan santunmu anak muda. Beraninya kau mempermainkan orang tua seperti kami. Apa kau ingin membuat kami mati di tempat dengan berita konyolmu ini hah?”, kata appa Siwon seraya meraih kerah baju Eeteuk.
“Aku tak bercanda sama sekali Choi sajangnim. Apa kau tak melihat putramu sekarat? Raganya memang baik-baik saja. Tapi jiwanya hampir mati. Tiap hari mabuk. Tiap hari selalu marah dan menangis. Dalam tidurnya dia selalu mengigau memanggil nama Hae Woon. Apa anda tidak tahu? Atau anda memang menutup mata pada ini semua.”, kata Eeteuk. Matanya menatap tajam tepat di manik mata appa Siwon.
“Jaga bicaramu.”, kata appa Siwon.
Appa Siwon melepas cengkeraman tangannya. Dia melengos. Eomma Siwon keluar dari kamar Siwon.
“Ayo kita pulang. Sekali lagi kalian membuat lelucon seperti ini, akan kupastikan hari itu hari terakhir Siwon ada di dunia hiburan. Aku telah mengijinkan Siwon kembali tinggal di dorm, bukan berarti aku sudah merestuinya. Camkan itu.”, kata appa Siwon saat akan meninggalkan mereka.
“Ahjussi, chukae. Anda akan menjadi haraboji. Ya haraboji. Dan aku akan menjadi ahjussi.”, kata Eeteuk pelan. Seketika langkah appa dan eomma Siwon terhenti. Appa Siwon hanya terdiam, tapi eomma Siwon berbalik menghampiri Eeteuk.
“Apa maksudmu Jung Soo. Jangan bercanda lagi.”, kata eomma Siwon lembut.
“Aniya ahjumma.  ISTRI Siwon tengah mengandung cucu kalian. Dia akan menjadi appa. Hari ini Siwon pulang dengan mabuk. Dia menangis dan berkata pada kami bahwa dia akan menjadi appa. Dia bilang Yun Woo menelponnya dan memberitahukan bahwa Hae Woon tengah mengandung. Tak bisakah Siwon tetap bersama Hae Woon? Kami sangat prihatin melihatnya sekarang.”, bulir airmata Eeteuk kembali menyeruak.
‘Braakk’
Semua menoleh pada pintu yang di tutup dengan keras oleh appa Siwon. Eomma Siwon menatap Eeteuk lembut. Dihapusnya airmata yang mengalir.
“Jangan cengeng. Aku tak pernah menentang keputusan Siwon, karena aku tau dia telah dewasa. Aku tahu dia telah bisa memilih jalan yang menurutnya terbaik. Kalian jagalah putraku. Aku akan mencoba berbicara dengan suamiku. Appa Siwon orang yang baik, dia bukan orang yang jahat. Dalam lubuk hatinya, dia orang yang lembut. Percayalah. Aku pulang dulu. Kalian jaga diri baik-baik. Minum vitamin. Kau juga Jung Soo. Jika lelah istirahatlah. Jika kau sakit siapa yang akan menjaga dongsaengmu. Bagiku, kalian semua putraku yang manis. Eomma titip Siwon ya.”, kata eomma Siwon sambil tersenyum. Semua membungkuk hormat saat eomma Siwon pergi meninggalkan dorm.

-------------

Eomma POV
Aku merenung saat berbaring di tempat tidur. Benarkah yang dikatakan Jung Soo tadi? Aku akan menjadi halmoni? Kenapa rasanya aku melayang. Aku sangat bahagia, tapi bagaimana dengan suamiku. Kuperhatikan setiap inchi wajah orang yang telah menemaniku selama lebih dari 20 tahun. Dia tengah bergulat dengan sebuah buku. Aku tau pikirannya juga gelisah. Hmmh, nampaknya sedikit rayuan sangat dibutuhkan
“Yeobo .”, kataku lembut. Kutarik bukunya dan kulempar. Kurebahkan kepalaku di dadanya.
“Yaa, kau menggangguku membaca.”, katanya kesal.
“Kau tak bermaksud menduakanku dengan buku itu kan.”, kataku manja.
“Aigoo~ sebenarnya ada angin apa malam ini. Kenapa istriku yang cantik ini jadi begini manja?”, kurasakan dahiku dikecup lembut. Aku tersenyum. Kuraih tangannya dan kugenggam erat. Tangan ini telah melindungiku lebih dari seperempat abad.
“Yeobo, ingatkah kau saat pertama kali kita bertemu? Apa kamu ingat saat kamu menyatakan perasaanmu di tengah hujan. Ingatkah kau saat kita mengucap janji di depan pendeta dulu. Aku masih ingat saat aku tau aku tengah mengandung anak kita.”, dia mendekapku erat.
“Tentu saja semua itu masih kuingat. Bagaimana bisa kulupa? Terimakasih kau telah menjadi ibu dari anakku. Terimakasih kau mau menemaniku sampai sekarang.”, dia mengelus puncak kepalaku lembut.
“Kita sangat beruntung ya yeobo. Beribu kali aku berkata dalam hati, betapa beruntungnya aku tak seperti Siwon. Aku sejuta kali beruntung karena bisa bersamamu yeobo, dan tak mengalami apa yang dialami putra kita.”, kataku pelan. Kurasakan tangan suamiku berhenti mengelus rambutku.
“Apa maksudmu.”, katanya kaku.
“Apa kau tak merasa beruntung. Aku sangat bersyukur, aku masih mempunyai eomma dan appa saat menikah dulu. Andai aku seperti Hae Woon, aku tak tau apa aku akan kuat.  Aku sangat bersyukur karena aku pada akhirnya menikah dengan namja yang kucintai dengan restu kedua orangtua kita. Aku sangat bersyukur karena kita bisa merasakan indahnya pernikahan itu. Terlebih aku bisa bersamamu terus, itu anugrah terindah. Aku tak tau bagaimana dulu jadinya jika appamu atau appaku tak merestui hubungan kita. Aish, pasti aku sudah bunuh diri. Untung saja Siwon cukup kuat untuk menjalani ini semua. Aku percaya dengan kekuatan Cinta. Karena dengan Cintalah, aku bisa melihat betapa orang yang mendampingiku selama ini adalah orang terlembut dan penuh Cinta. Hooaam... aku ngantuk. Kajja kita tidur yeobo.”, kukecup kilat pipinya, dan aku berbaring membelakanginya. Dia hanya diam dan mematikan lampu.
Tak berapa lama kurasakan ranjangku bergoyang. Dia beranjak bangun.
‘sret sret’
Dia mondar-mandir gelisah sambil menatapku. Aku hanya tersenyum kecil.
‘ttuuuut’
“Yeoboseyo... ne sekretasis kim. Kita harus bertemu sekarang..... Ini bukan masalah perusahaan. Aku akan kerumahmu...”, dia mengakhiri pembicaraannya. Dia berjalan mendekatiku -yang pura-pura tidur-.
“Yeobo, termiakasih kau masih mau mendampingi orang egois sepertiku. Aku tak akan biarkan putra kita  tak merasakan indahnya pernikahan itu. Aku akan mmbiarkan putra kita mengikuti jejak kita.”, katanya pelan.
‘Cup’
Dia mengecup dahiku lembut, sebelum melangkah keluar kamar. Kudengar suara mesin menjauh dari rumah kami. Aku bangun dari tidur pura-puraku.
“Api hanya akan bisa padam dengan air. Api bertemu api hanya akan menambah kebakaran besar.”, aku tersenyum karena rencanaku berhasil.
0o0
Yun Woo POV
‘Tok tok tok’
Kulirik jam di dinding. Ini masih sangat pagi. Kenapa ada orang menamu di sepagi ini. Aku melangkah ke depan untuk membuka pintu.
‘Cklek’
Omo !! Ige mwoya??? Aku tercengang melihat apa yang ada di depanku.
“Annyeong hasimnika.”, serentak beberapa orang yang memakai jas dan seragam itu membungkuk padaku. Dengan kaku aku ikut membungkuk.
“Mianhamnida. Tapi, kalian mencari siapa?”, kataku pelan.
“Perkenalkan, saya sekretaris Kim. CEO Choi mengirim kami.”, katanya sambil tersenyum. Aku hanya terdiam bingung. Ada 5 mobil di halaman, salah satunya di hias dengan bunga dan pita. Ada sekitar 10 orang laki-laki dan 4 orang wanita yang tengah tersenyum.
“Bolehkah kami masuk?”, kata orang tadi.
“Ne” kataku pelan.
Beberapa dari mereka ikut masuk.
“Bagaimana tinggal disini? Apakah menyenangkan?”, katanya.
“Mwo??? Menyenangkan? Cih, ingin rasanya aku membunuh orangtua itu. Tapi aku masih menghargai Siwon hyung. Dia mengirimku dan nuna di tempat terpencil seperti ini. Kami ingin meninggalkan tempat ini, tapi kami selalu gagal karna anak buah orang tua itu tak akan pernah membiarkan kami keluar dari neraka ini.”. kataku geram. “Jadi kalian mencari siapa?”
“Kami mencari anda dan nona Hae Woon. Kalian akan kembali ke Seoul.”, kata orang itu. Apa maksudnya.
“Yun Woo ah, siapa yang datang?”, aku menoleh ke nunaku yang tengah berdiri dengan sapu di tangannya.
“Aaah, itu dia mempelainya. Kalian tunggu apa lagi. Dandani dia.”, aku melongo mndengar apa yang diucapkan orang tadi.
“Mwo? Apa yang akan kalian lakukan?”, kataku kaget.
“Sebaiknya kau juga lekas ganti baju dengan baju yang kami siapkan. Kau tidak akan membiarkan pernikahan nunamu terlambat kan?”, kata orang itu yang semakin membuatku bingung.
0o0
Yesung POV
Aku melangkah menuju pintu saat ada ketukan pintu.
“Annyeong hasimnika. Kami datang untuk menjemput kalian. Apakah mempelai Choi Si Won telah bangun? Dia harus segera bersiap agar resepsinya tak terlambat.”
Aku tercengang mendengar apa yang dikatakan orang orang.
“Ye?????”
0o0
Cloudya POV
(percakapan dalam bahasa Indonesia)
“Aish dek. Ayo buruan. Kau bisa membuat kakak terlambat di resepsi ini. Ini acara yang sangat penting bagi saudara namjachingu kakak. Bukankah kau ingin tau siapa namjachingu kakak.”, kataku kesal karena adikku  yang masih duduk di kelas 3 SMA itu belum juga keluar dari kamar. Ya, dia sedang menghabiskan waktu liburan 2 minggunya di Korea.
“Kak, kau cerewet sekali. Bagaimana penampilanku?”, katanya. Aku menutup mulutku.
“Yaa, kau yakin memakai itu?”, aku memandangnya yang tengah memakai kebaya. Kebaya berwarna biru safir dengan renda dan manik kecil. Yeppeona. Kuakui itu kebaya modern yang sangat indah. Dia memakai kebaya dengan dipadu bawahan batik solo membuatnya benar-benar terlihat seperti putri. Rambutnya digulung ke atas dan disisakan sedikit di samping. Poninya tak ketinggalan. Dia benar-benar cantik.
“Kenapa kak? Baru tau kalau aku cantik ya?”, katanya narsis.
“Dek, kamu cantik. Tapi ini KOREA. Kau akan tampil dengan kebaya?”, kataku. Aku sendiri memakai dress berwarna putih.
“Yaa kak, justru itu. Kita harus memperkenalkan Indonesia di sini. Siapa tau ada namja di sini yang tertarik denganku. Hihihihi.”, dia tertawa renyah.
“Aish, terserah. Kakak sudah memberitahumu.”, kataku. Kutarik tangannya agar bergegas.
0o0
Jully POV
“Oppa, kau sudah siap? Apa kita harus berangkat sekarang? Tapi aku malu oppa.”, aku menundukkan kepala menyembunyikan semburat merah di pipiku.
“Jangan malu chaggi. Kau sangat cantik. Kajja kita berangkat.”, katanya seraya menggandeng tanganku.
0o0
Nari POV
“Ingat Pinguin, kau harus bersikap seromantis mungkin di depan hyungku. Pokoknya selama sebulan ini kau harus bersikap seolah-olah kau benar-benar yeojachinguku. Arrasseo !!”, katanya berulang kali.
“Aish, gendut. Aku sudah muak mendengarnya. Aku itu bukan anak TK. Aku mengerti. Bukankah kita sudah sepakat huh.”, aku pergi meninggalkannya.
“Yaaa, tunggu aku.”, teriaknya di belakangku.
0o0
Author POV
Gedung megah itu di jaga begitu ketat. Terlihat segerombolan wartawan dalam negri maupun dari mancanegara hadir untuk meliput, tapi sayang tak satupun diperbolehkan masuk. Terlihat  juga ELF yang menangis dan berteriak-teriak tak terima dengan pernikahan itu. Namun ada juga yang mendukung pernikahan itu. Tak seorangpun bisa menelusup masuk dengan cara apapun. Bahkan penyaji makanan di resepsi itu adalah pelayan pribadi keluarga Choi. Benar-benar tertutup.
Terlihat Siwon terus menggenggam erat tangan yeoja di sampingnya. Siwon dan Hae Woon telah selesai mengucap ulang sumpah mereka. Kini di jari mereka telah tersemat cincin pernikahan yang mengikat keduanya. Kini mereka berdua tengah duduk melingkar dengan semua member dan pasangannya. Semua member sudah hadir, kecuali Heechul, Kangin, Kibum, Shindong, Donghae, Zoumi, Henry dan tentu saja Hankyung. Tak heran karena resepsi ini benar-benar mendadak.
“Yaa, Yesung hyung, dimana Cloudya nuna? Dia tak datang?”, kata Kyuhyun yang duduk di samping Cinta.
“Aish, aku tak tau. Katanya dia akan datang bersama dongsaengnya. Kenapa dia lama sekali.”, kata Yesung.
Terlihat Donghae datang dengan menggenggam tangan seorang yeoja blonde.
“Annyeong hyung. Mianhae, aku terlambat. Aku ingin memperkenalkan seseorang.  Dia.....”
“Donghae ya, kau sudah datang.”, perkataan Donghae tadi terpotong oleh Shindong. “Yaa, aku ingin memperkenalkan yeojachinguku. Perkenalkan dia Park Nari, yeojachinguku.”
Semua tercengang mendengar pernyataan Shindong.
“Yaa hyung. Aku kan sudah duluan bilang akan memperkenalkan yeojachinguku. Hyung, wookie ah, Kyu ah, perkenalkan yeojachinguku, Jully.”, kata donghae sambil menggenggam tangan Jully.
“Mwo?? Omo !!! yeojachingumu warga asing. Daebak !! dia cantik Donghae ya.”, kata Eunhyuk.
“Ehem..... Monyet jelek. Mengacalah. Monyet sepertimu tak pantas untuk genit arratji.”, kata Hyekyung seraya menatap geram Eunhyuk. Eunhyuk hanya tertunduk.
“Hahahaha... Kasian sekali kau Hyukjae. Bahkan yeojachingumu mengakui bahwa kau jelek. Auuuw.”, Kyuhyun mengaduh kesakitan karena pinggangnya dicubit Cinta.
“Bukankah sudah kubilang untuk sopan dengan hyungmu huh.”, seketika Kyuhyun ikut menunduk.
“Hahahahaha.... kasian sekali kalii.... an.”, dan Eetuk ikut menunduk karena Jeo Rim menatapnya tajam.
“Omo... siapa itu yang bersama Cloudya.”, Sungmin menunjuk ke arah pintu masuk.
Sebagian undangan juga ikut menoleh saat 2 orang yeoja masuk ke ruangan itu.
“Annyeong oppa. Mianhae aku telat. Dongsaengku benar-benar lama berdandan.”, kata Cloudya seraya menghampiri Yesung dan mencium pipinya. “Yaa April a, apa kau akan tetap berdiri di situ?”
Yang di panggil tetap tak bergeming. Dia teramat kaget. Dia tak menyangka bahwa dia akan bertemu dengan Boyband favoritnya.
“Kak, ba.. ba.. bagaimana bisa kakak kenal dengan mereka. Dan kau mencium Yesung oppa? Apa  a... pa... yang kau lakukan?”, April bertanya dengan gugup.
“Hahaha, kemarilah. Bukankah ini impianmu. Kau bertemu dengan Super Junior. Dan berbahagialah, Yesung oppa adalah namjachingu kakak. Kajja duduk bersama kami. Kau adalah orang pertama yang kami ajak berkumpul bersama sekalipun kau bukan yeojachingu salah satu diantara member Super Junior.”, kata Cloudya. Semua tersenyum manis pada April. Sedang April sendiri hanya menatap nanar apa yang ada di depannya.
“Yeojachingu?”, April mengamati orang yang duduk dihadapannya. Semua duduk berdampingan dengan seorang yeoja, kecuali Ryeowook yang sedari tadi cemberut.
“Dan Siwon oppa?”, tellunjuk April menelusuri yang duduk disitu. “Kak, sebenarnya ini pernikahan sia.....”
Seketika April terdiam. Dia menutup mulutnya kaget.
“Siwon oppa.....”, airmata mulai menyeruak keluar dari mata April. Dia berlari keluar.
“Ada apa dengannya?”, tanya Siwon.
“Biarkan saja. Dia hanya sedih karena biasnya menikah. Nanti juga akan kembali kesini. Dia kan tak tahu apapun tentang daerah ini.”, kata Cloudya santai. Semua mangangguk.
“Hyung, bisa antar aku ke kamar kecil.”, kata Ryeowook sembari menepuk pelan tangan Yesung.
“Aish, kau sudah besar, masak tak mau kesana sendiri.”, kata Yesung. “Yaa Cloud ah.....”
“Hyung, maukah kau menemaniku..”, kali ini dia meminta pada Eeteuk.
“Sebentar wookie ah, Jeo Rim masih mengambil pudding untukku.”, jawab Eeteuk.
“Kyu...”, kata Wookie melas.
“Waeyo Wookie ah, jangan ganggu aku, kau tau kan aku dan Cinta susah sekali bertemu.”, kata Kyuhyun bahkan tanpa memandang Ryeowook.
Ryeowook memandang sebal pemandangan di depannya.
“HYUUUNGGGGG !!!!! BERHENTI MENGACUHKANKU. APA AKU SEPERTI DEBU YANG TAK TERLIHAT !!! AKU JUGA BUTUH TEMAN !!!! AKU BENCI SANGAT BENCI KALIAN !!!!!! (Capslock jebol)”, Ryeowook berteriak dan berlari keluar dengan sebal.
Semua menatap kepergian Ryeowook dengan heran.
“Apa dia marah?”, kata Eeteuk.
“Yaa, kalian apakan putraku?”, semua member Super Junior menoleh ke asal suara. Ternyata semua orangtua Super Junior tengah ada di hadapan mereka.
“Annyeong eomma, appa.”, semua membungkuk kompak.
“Aigoo~ Siapa yeoja cantik ini. Kalian tak berniat memperkenalkan pada kami?”, goda eomma Eeteuk.
Semua hanya nyengir malu. Appa Siwon mendekati putranya.
“Putraku. Kau sekarang telah menjadi suami. Bersikaplah lebih dewasa. Bimbing istrimu. Jangan sakiti dia ne. Hae Woon ah, mianhae karena appa pernah menyakitimu. Seharusnya appa tak pernah melakukan itu padamu.”, kata appa Siwon. Dia memeluk Hae Woon dan Siwon. “Ini kado pernikahan dari eomma dan appa.”
Siwon menerima sebuah amplop kecil dan membukanya. Seketika Siwon meneteskan airmatanya.
“Appa, ini......”
“Ne, Hae Woon akan menjalani operasi cangkok mata. Appa sudah mengatur semuanya.”, kata appa Siwon.
“Aigoo~ Jung Soo ya, lihatlah dongsaengmu sudah menikah. Apa kau tak ingin menikah?”, goda eomma Eeteuk. “Cepatlah menikah, eomma ingin cepat-cepat menimang cucu.”
“Kau dengar Jeo Rim ah, menikahlah denganku.”, kata Eeteuk. Jeo Rim tersenyum.
“Ahjumma, ijinkan aku menunggu sampai dia seleseai wamil.”, kata Jeo Rim manis.
“Yaa chaggi itu terlalu lama.”, Eeteuk merengut mendengar jawaban Jeo Rim. Semua tertawa.
“Chaggi, kata Teuki hyung, Siwon akan jadi appa. Kau tak inginkah aku menjadi appa juga.”, bisik eunhyuk pada hyekyung.
“Aigoo~ rupanya aku harus terus menyapu otak kotormu itu tuan monyet.”, bisik hyekyung.
“Yaa, aku bosan di sini. Kita keluar yuk. Aku kangen.”, bisik Kyuhyun pada Cinta.
“Kau harus belajar sopan santun tuan Cho.”, bentak Cinta.
“Yaa, aku sudah cukup sopan nona Cho !!”, Kyuhyun tak mau kalah.
“Mwo?? Nona Cho?? Ya kenapa kau memberiku marga seenaknya. Kau mau dibunuh appaku hah?”, Cinta mendelik pada Kyuhyun.
“Gureom, kau tak mau kupanggil nona Cho??? Lalu siapa Lee??? Kim???? Sebenarnya siapa namjamu?? Dasar bocah !!”, Kyuhyun tak kalah sengit.
“Bocah??? Yaa, pak tua, lihatlah dirimu. Maniak game dan magnae evil, aish jinja, bahkan tak ada sedikitpun yang menarik darimu.”, mata Cinta menatap dengan tatapan menantang.
“Tak menarik?? Berhenti berucap tak menarik atau kau akan kucium.”, Ancam Kyuhyun.
“Cih, bahkan sekarang kau yadong. Satu sisi negative darimu tuan Cho. Sungguh aku.....”
‘Cup’
Cinta kaget karena Kyuhyun mengecup bibirnya kilat DI DEPAN ORANG TUANYA.
“Yaaakkk Neo !!!!”, Cinta berlari mengejar Kyuhyun yang telah kabur duluan. Semua hanya dapat melongo melihat tingkah 2 magnae itu. Dan kisah ini ditutup dengan adegan kejar-kejaran KyuCin couple.

END


Next Preview
~Donghae : “Dia hanya 1 bulan di Korea, setelah itu kami berpisah. Aku tak menyukainya hyung.”
~Jully : “Aku akan menandatangi kontrak dengan Star Company. Aku mencintaimu my Fishy.”
~Shindong : “Apa aku tak boleh berharap lebih dari sekedar kepura-puraan?”
~Nari : “Gendut ah, saranghae.”
~Ryeowook : “Aku benci di acuhkan. Liburan kali ini benar-benar serasa neraka jika saja April tak menemaniku.”
~April : “Aku tak menyangka dia begitu dewasa. 7 tahun. Bolehkah???”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar