5.25.2012

[FF] It’s Real, Lady Blonde/SJ Couple Sequel/DongJul


Title       : It’s Real, Lady Blonde (Part 1)
Author   : Santi Aprilliani
Genre    : Romantic, Family, Friendship.
Rating    : PG 16
Length   : 1 of ~
Cast      : Lee Dong Hae
               Jully Coward (Fiktif)                Lee Hyuk Jae aka Eunhyuk
   Park Jung Soo aka Eeteuk                Other SuJu member and Couple
Disclaimer : All Super Junior member adalah milik Tuhan. Mereka kebanggaan ELF. Tapi Yesung hanya milikku !!! #Plak#
Annyeong....
Adakah yang rindu pada FF ini? Karena banyak yang meminta Donghae oppa lebih dulu. Maka kudulukan. Setelah couple ini selesai, maka abis itu Shindong oppa. Untuk Ryeowook oppa, Karena ceritanya membutuhkan semua couple member yang aktif, maka bagiannya setelah Shindong oppa. Abis semua selesai baru FF spesial untuk member yang tak aktif. #author cerewet#
 LET’S READING.....

1313131313131313


Donghae POV

Aku melongok ke kamar coupleku. Lagi-lagi dia sibuk dengan ponselnya. Setiap kami punya waktu luang, dia selalu sibuk sendiri dengan ipad atau ponselnya.

“Hyung, temani aku belanja. Kajja.”, kataku. Dia menoleh padaku sebentar. Ditutupnya ponselnya dengan tangannya.
“Ssstt, aku sedang telpon dengan hyekyung. Kau tau sendiri kan kami sama-sama sibuk.”, katanya.
“Terus saja mengacuhkanku. Rupanya sekarang kau sudah menggantikan posisiku dengan hyekyung. Huh, kau membuatku kesal monyet.”, aku berteriak di depannya. Tak peduli hyekyung dengar atau tidak.
‘Braakk’
Kubanting pintu kamar monyet jelek itu. Aku melangkah keluar dengan tergesa.
“Yaa kau mau kemana.”, Yesung hyung menghentikan langkahku. “Ini sudah malam. Kau harus tidur, karena nanti pagi sekali kita harus sudah bangun untuk latihan.”
“Biarkan aku. Aku akan minggat. Aku sudah bercerai (?) dengan monyet evolusi itu. Tidak ada lagi EunHae couple. Yang ada Eunkyung couple.”, aku mendorong tubuh Yesung hyung. Aku melangkah dengan emosi. Aku memakai masker dan kacamataku. Aku berhenti di halte bus yang tak jauh dengan dorm kami. Bergegas aku naik bus untuk menghilangkan kekesalaih nku.
0o0
Jully POV
Kukerjapkan mataku. Omo, aku ketiduran. Aish, padahal  aku tadi mau pulang. Kenapa malah ketiduran di bus. Aku menoleh keluar. Aku bingung. Ini sekarang di daerah mana? Buru-buru aku turun dari bus saat bus berhenti di salah satu halte. Ini sekarang dimana. Kulirik jam tanganku. 23.14 KST. Mwo???? Jadi aku tadi sudah berkendara lebih dari satu jam. Aku sekarang dimana. Padahal tadi harusnya aku hanya berkendara 15 menit. Kenapa aku harus tertidur.
Langit mendung sejak sore tadi. Aku benar-benar seperti orang linglung. Aku benar-benar takut sendirian. Yah, di halte ini tinggal aku saja. Aku jadi menyesal turun di sini. Kenapa tidak ada orang sama sekali. Aku sangat takut sendirian di tempat umum seperti ini. Perlahan airmataku menetes.
“Mom, Dad. Aku dimana sekarang? Kenapa aku begitu bodoh. Aku harus bagaimana?”, aku merosot dan menangis sejadinya. Kudekap lututku erat. Aku beanr-benar takut. Tak berapa lama, untunglah ada satu orang lagi yang turun di halte ini. Aku mendongak dan melihat seorang namja yang tengah bersandar di tiang. Kuhapus airmataku. Dia mengenakan masker dan kacamata hitam. Namja ini aneh sekali. Kenapa di malam seperti ini malah pakai kacamata hitam. Namja itu juga balik menatapku. Sudahlah, lebih baik aku menanyakan alamat apartemenku padanya.
“Jeogiyo. Apakah anda tau alamat ini.”, aku menyodorkan sebuah kertas padanya.
‘Guluduk guluduk taarrrr’ (petir ceritanya)
“Kyaaaaaa.”, aku berteriak kencang. Kututup telingaku. Bayangan peristiwa masa kecilku saat aku terjebak di rumah tua kembali terkuak di ingatanku. Saat aku terjebak di rumah tua di tengah badai, sendirian.
“Yaa agasshi, gwaencahana.”, dia menggoyang  tubuhku. Airmataku sudah meluncur bebas karena ketakutanku.
‘Guluduk duluduk tar taaarr’
“Please, stop it. Kyaaaa”, aku mendekap lutuku erat.
“Agasshi.”, kembali dia menggocang tubuhku. Aku menatapnya.
“Jebal, tolonglah aku. Save me.”, kucekal erat tangannya. Aku merasa sangat pusing. Pandanganku semakin memudar. Dia semakin menghilang.
0o0
Donghae POV
Setelah berkeliling sekitar satu jam lebih, bus kembali di halte semula. Apa aku harus pulang sekarang. Hmmh, sebaiknya nanti saja. Kusandarkan tubuhku di tiang dekat tempat duduk halte. Kulirik jam tanganku. 23.14 KST. Ah, biar saja monyet itu kelabakan mencariku. Sekarang sudah larut. Hanya ada aku dan seorang yeoja bule di sini. BULE???? Aku menatapnya takjub. Rambutnya lurus dan  agak panjang, dan warnanya blonde. Aigoo~apa itu benar-benar asli blonde. Lalu kenapa dia seperti ketakutan. Wajahnya pucat. Matanya sembab. Dia juga memperhatikanku. Pandangan kami bertemu. Dia menghampiriku.
“Jeogiyo. Apakah anda tau alamat ini.”, dia menyodorkan kertasnya padaku. Aku menerimanya.
‘Guluduk guluduk taarrrr’
“Kyaaaaaa.”, aku kaget karena teriakannya. Dia duduk merosot dan menutup telinganya. Tubuhnya bergetar hebat. Sepertinya dia sangat ketakutan. Hujan mulai turun dengan deras. Aish. Kenapa aku harus terjebak. Kudekati yeoja tadi. Kugoyang tubuhnya untuk mmastikan dia baik-baik saja.
“Yaa agasshi, gwaencahana.”,  aku benar-benar cemas sekarang. Bagaimanapun tinggal aku dan dia di sini. Aku tak mau disangka jahat.
‘Guluduk duluduk tar taaarr’
“Please, stop it. Kyaaaa”, dia kembali mendekap erat tubuhnya. Tubuhnya bergetar hebat.
“Agasshi.”, aku mengguncang tubuhnya kemabli. Dia menatapku. OMO, wajahnya pucat sekali.
“Jebal, tolonglah aku. Save me.”, kata-katanya bergetar. Petir masih bersahut-sahutan.  
‘Bruukk’
Aku kaget saat tiba-tiba tubuhnya menimpaku. Rupanya dia pingsan. Dan... waaaaaa kenapa dia terjatuh dengan bibir tepat di atas bibirku. Buru-buru kudorong tubuhnya. Dia terkulai di tanah. Jantungku berpacu tak karuan. Aigoo~ ada apa denganku. Aku menatap yeoaj tadi. Kasian sekali dia. Tubuhnya sangat dingin. Dia bagai mandi keringat. Kuraih kepalanya.
“Yaa, agasshi. Gwaenchana? Ireona....”, kugoncang tubuhnya. Tapi dia tetap tak merespon. Aku merogoh saku celanaku, mencoba mencari benda kotak mungil. Andweee, ponselku tertinggal. Aish. Akhirnya kuangkat tubuhnya dan kubaringkan tubuhnya di tempat duduk halte bus. Aku berlari menerobos hujan untuk mencari taksi. Setelah sekian lama menunggu dan mencari, aku menemukan satu taksi. Buru-buru aku naik taksi itu dan menjemput yeoja tadi. Tak kupedulikan tubuhku yang basah kuyup. Aku meminta supir taksi mengantar kami di alamat di kertas tadi. Kuambil tas yeoja tadi dan kuambil kuncinya.
Tak berapa lama kami sampai di sebuah apartemen. Kucari ruangan dengan nomor 122 di lantai 8. Aish, yeoja ini berat sekali. Dengan masih menggendongna, kubuka pintu dengan kuncinya. Aku buru-buru membaringkan dia di salah satu kamar. Baju yeoja itu sedikit basah karena terkena bajuku. Aku beranjak berdiri. Tapi aku kembali menoleh. Kasian sekali yeoja itu. Bajunya basah, padahal dia sedang pingsan. Atau aku gantikan saja. Yak, andwe. Aku tak bisa. Atau kupanggil tetangga apartemennya saja. Andwe !!! Kalau mereka tau aku  di sini, ini akan menjadi gossip yang tidak sedap. Eotteohke... huh. Perlahan aku mendekati yeoja yang tengah menutup matanya itu. Tanganku terulur untuk membuka kancingnya. Jantungku melompat-lompat tak karuan.
“ANDWE !!!”, aku berteriak. Aku mondar-mandir karena frustasi.
“Eunghh”, aku tersentak saat yeoja tadi mengerang pelan. Kudekati dia. Demam? Kenapa badannya panas. Aigoo~ yeoja ini sungguh merepotkanku saja. Kuputuskan mencari es di lemari pendingin. Kukompres dahinya. Bangunlah yeoja jelek.
“Hacchiiiuu.”, kugosok hidungku. Aish, dingin sekali. Bajuku benar-benar basah. Tapi aku tak punya baju ganti. Huh.
“Moomm.”, yeoja itu kembali mengerang. Tubuhnya menggigil. Aigoo ~ dia kasian sekali. Mianhae agasshi. Aku harus mengganti bajumu, kalau tidak kau bisa masuk angin.
Aku mencari piyama di lemarinya. Ketemu. Aku menggigit bibirku ragu.
“Ya Tuhan, kuatkan aku.”, aku berdoa sebentar. Akhirnya dengan tangan bergetar, aku membuka kaos berlengan pendeknya dengan wajahku melengok ke samping. Kututup mataku. Kulempar kaosnya sembarangan. Dengan masih menutup mata, aku meraih tangannya. Kumasukkan tangan yeoja tadi di lengan piyama. Berhasil, kedua tangan sudah masuk. Sekarang tinggal mengancingkan buah bajunya. Aku melirik sebentar untuk memastikan letak kancingnya.
‘Glek’
Aku harus tahan. Buru-buru kututup kembali mataku. Dan dengan hati-hati aku mulai menggabung kancingnya. Finish. Fiuhh... sekarang tinggal, errr celana piyamanya.
“Arrrggghh.”, kulempar celana piyamanya. Biar saja celananya basah. Aku tak mau menggantikannya. Aku buru-buru keluar dari kamarnya setelah menyelimuti tubuhnya dan mengompresnya. Kubaringkan tubuhku di sofa. Jika di dalam kamar itu terus, aku takut aku tak sanggup menahan gejolakku. Bagaimanapun juga aku ini normal. Apalagi di udara sangat dingin. Aish, sial sekali aku. Aku meringkukkan badanku agar terasa lebih hangat. Kepalaku terasa berat.
“Hacchiiiuuu....”, aku bersin kembali. Aish, dasar yeoja sial. Huh. Kulirik jam tanganku. 02.30 KST. Aigoo~ ini sudah sangat larut. Pasti teuki hyung marah. Besok pagi-pagi kan kita ada jadwal. Dan sebelumnya harus latihan dulu. Lebih baik aku pulang sekarang. Aku melangkah hendak keluar apartemen ini. Tapi aku menoleh kembali. Kucari kertas dan pulpen di sekitar ruangan itu. Dengan segera kutulis baris pesan untuk yeoja tadi. Entah kenapa aku khawatir padanya.
“Haaciiiuuuu.. uhuk uhuk.”, kembali aku bersin dan batuk. Dingin.
0o0
Author POV
Di salah satu apartemen, terlihat beberapa namja yang tengah sibuk mencari saudara mereka yang beberapa jam lalu menghilang. Hari telah hampir pagi. Waktu menunjukkan pukul 02.51 KST. Hampir pagi. Padahal mereka merencanakan latihan pukul 04.00 KST karena pukul 06.00 KST nanti mereka akan mulai pengambilan gambar untuk acara pagi. Terlihat dua orang masuk ke dorm.
“Hyung, dia belum pulang?”, tanya Kyuhyun yang baru datang dengan sungmin.
“Belum. Apa di luar tidak ada?”, tanya leader mereka.
“Tidak ada hyung. Aku sudah mencari ke tempat-tempat yang biasa dia datangi. Tapi dia tak ada.”, kata sungmin.
“Hyuuungg... bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Hae. Aku yang salah karena mengacuhkannya. Bagaimana kalau dia di culik. Tadi malam juga hujan sangat deras. Donghae kan tidak tahan dingin hyung (anggap aja begitu ya,hehehe). Etteohke hyung.”, Eunhyuk berkata dengan airmata membanjir. Yesung memeluk Eunhyuk untung menenangkannya.
“Haacciiuuu.... uhuk uhuk uhuk.”
Sebuah suara mengagetkan namja yang tengah berkumpul itu. Donghae muncul dengan tubuh menggigil dan wajah memerah.
“Hae ah.....”, Eunhyuk berlari menghampiri Donghae dan memeluknya. “Gwaenchana?”
Donghae tak menjawab. Dia terus berjalan ke kamarnya. Tapi kemudian dia menoleh sebentar.
“Hyung, aku ingin istirahat sebentar. Bangunkan aku jika kalian akan berlatih.”, kata Donghae lemas. Ditutupnya kamar tempat dia berbagi dengan Eeteuk. Semua hanya bisa memandang cemas.
-------------
Waktu telah menunjukkan 04.30 KST. Sejumlah namja tengah berkumpul bersama dengan lembaran kertas di tangan masing-masing.
“Hyung, apakah Donghae tidak apa-apa tidak latihan bersama kita?”, tanya namja berbadan gempal itu. Namja yang memimpin mereka, menoleh pada salah satu kamar.
“Ani, biar dia latihan nanti di backstage. Sepertinya keadaannya tidak baik-baik saja shindong ah.”, kata namja bernama Eeteuk itu.
Mereka kembali meneruskan kegiatan masing-masing.
“Hyyuunnngg... Arrgghh.”
Mereka tersentak dengan erangan di kamar depan mereka. Sontak semua berdiri menghampiri kamar itu. Terlihat di dalam kamar, seorang namja tengah tergolek lemah dengan wajah pucat. Tubuhnya menggigil di balik selimut. Keringatnya membanjir. Matanya terpejam dan giginya gemeletuk.
“Donghae ah, gwaenchana?”, tanya Eeteuk cemas. Disentuhnya dahi Donghae.
“Ya Tuhan, badannya panas sekali. Kyu, cepat ambil kompres. Sungmin, ambilkan handuk. Ryeowookie, buatkan bubur. Yesung ah, ambilkan thermometer dan paracetamol.”,  dengan sigap leader mereka memberi aba-aba. Mereka menurut, bahkan magnae mereka yang biasanya tak terima disuruh, kali ini tak ada protes dari mulutnya.
Kyuhyun kembali membawa kompres. Tangan Eeteuk dengan cepat mengompres dahi Donghae. Sedang sungmin mengelap keringat yang keluar. Mereka sangat cemas. Eunhyuk yang dikenal dekat dengan Donghae, hanya menangis dan menggenggam tangan Donghae yang dingin. Dia merasa sangat bersalah.
“Hyung, ini buburnya.”, kata Ryeowook seraya memberikan semangkok bubur pada Eeteuk.
“Ne, Wookie ah.”, kata Eeteuk. “Donghae ah, bangunlah sebentar. Makanlah buburmu dan minum obat agar kau lekas sembuh.”
Dengan masih setengah sadar, dan dibantu member lain, Donghae memakan bubur buatan Wookie.
“Hyung, apa Hyemi kusuruh kesini saja?”,  usul sungmin.
“Kau tak keberatan?”, Eeteuk memandang dongsaengnya.
“Aku yakin Hye Mi bisa membantu.”, kata sungmin yakin. Yeojachingunya memang seorang dokter.
“Hyung, ini thermometer dan paracetamolnya.”, kata Yesung tiba-tiba.
“Gomawo Yesung ah, tapi kita tunggu Hye Mi saja.”, kata Eeteuk. Tak berapa lama sungmin keluar dorm untuk menjemput yeojachingunya.
>Wuaaaa kebayang gak gimana cara merawatnya? Author juga pengen. 0,0  >.<
0o0
Jully POV
Silau. Kubuka mataku. Kepalaku pening. Aku bergegas bangun. Ternyata sudah pagi. Syukurlah hujannya sudah berhenti.
‘Pluk’
Sebuah kain agak basah jatuh dari dahiku. Kompres? Aku mengerling bingung. Mataku tertuju pada baju dan celana piyama di lantai. Jamkkamman, bukankah aku tadi malam tersesat di halte bus. Dan di situ ada seorang namja. NAMJA?????? Aku melihat diriku telah berganti dengan piyama. MWO?????? Kusingkap selimutku. Syukurlah masih lengkap. Tapi... apakah tadi malam tidak terjadi apa-apa.
Sontak aku meloncat dari ranjangku. Aku berlari keluar kamar. Siapa tau namja tadi malam masih di sini. Kulongok dapur, 2 kamar yang lain, ruang kerjaku, dan ruangan lainnya. Nihil. Aku melangkah lesu ke ruang tamu. Mataku tertuju pada secarik kertas di atas meja. Kertas apa itu?
“Agasshi. Aku namja yang bersamamu di halte tadi malam. Apa kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu? Aku takut melihat wajah pucatmu tadi malam. Jika kau sudah sadar, hubungi aku di 08131122****.”
Aku menyandarkan tubuhku di sofa. Aku benar-benar lemas sekarang. Bagaimana kalau tadi malam dia menjamahku? Bagaimana kalau dia yang menggantikanku baju. Bergegas kuambil ponselku dan kudial nomor tadi.
‘Tuutt tuuutt tuutt’
“Yeoboseyo”
Dia benar namja. Dengan ragu aku menjawab salamnya.
“Ne, yeoboseyo.”
Nuguseyo”
Aku menghela napas sebentar.
“Aku yeoja yang tadi malam di halte.”
“Aaah, agasshi. Eotteohke? Gwaenchana?”
“Nan gwaenchaseumnida. Errr, aku ingin bertanya. Err, apa kau yang mengganti bajuku?”, dengan berat aku bertanya.
“Ne, waeyo?”
‘Deg’
“MWOO???? Yak namja mesum. Gila. Bagaimana bisa kau berbuat begitu padaku hah? Dimana sopan santunmu?”
“Yaikh, jangan berteriak. Kau hampir memecahkan gendang telingaku. Aku tak menyentuhmu. Bahkan tanganku terlalu sayang untuk menyentuh tubuhmu yang jelek itu.”
”Mwo??? Yaa, kau harusnya minta maaf karena sudah melihat tubuhku tanpa ijin.”
Aku benar-benar malu. Bagaimana aku bisa lengah.
“Yaa blonde jelek. Kau harusnya berterimakasih padaku. Aku tadi malam rela kehujanan untuk mengantarmu yang pingsan ke apartemenmu. Kau sungguh berat. Kau sungguh menyusahkanku saja. Bahkan aku sekarang terpaksa tak kerja karena sakit. Huh. Aku tak mengharapkan terimakasih darimu. Aku hanya mencemaskan keadaanmu.”
‘Deg’
Aku teringat, tadi aku terbangun dengan kompres di dahiku. Apa aku benar-benar demam. Aish, aku menjadi malu.
“Gureom, jeongmal gamsahamnida. Berikan alamat rumahmu. Aku akan merawatmu.”, kataku setelah terdiam cukup lama.
“Di bla bla bla. Kau akan kesini?”
“Ne, annyeong.”
Kututup ponselku. Aku bergegas bersiap untuk ke rumahnya.
0o0
Donghae POV
Aku mengerjapkan mataku. Kepalaku rasanya masih sedikit pusing. Tapi aku merasa lebih segar sekarang. Kutatap jam di samping ranjangku. 06.13 KST. Rupanya sudah pagi. Kenapa dorm sepi sekali? Ah mungkin mereka sedang latihan.
Haus sekali rasanya. Aku bergegas menuju lemari es untuk mengambil air minum. Belum sempat aku membuka pintu lemari es, pandanganku tertumpu pada secarik note di pintu lemari es.
“Donghae ah, kau ingat kan hari ini ada jadwal pagi. Karena kamu sakit, kami meninggalkanmu. Istirahatlah. Manajer hyung sudah mengijinkanmu istirahat di dorm.
Angel1004^^”

Yaikh, aku ditinggal sendirian. Aish.
“Oh nan~
Geu nooga nooga mweorado naneun sanggwan eobdago
Geu nooga nooga yokhaedo neoman barabondago”

Ponselku bordering saat sebuah nomor tak dikenal masuk.

“Yeoboseyo”
“Ne, yeoboseyo.”
”Nuguseyo?”
“Aku yeoja yang tadi malam di halte.” Ah jadi dia yeoja bule itu. Kukira siapa.
“Aaah, agasshi. Eotteohke? Gwaenchana?”
“Nan gwaenchaseumnida. Errr, aku ingin bertanya. Err, apa kau yang mengganti bajuku?”,
‘Deg’
Aish, benar kan. Dia pasti akan menanyakan ini. Aish, Donghae pabo. Harus kujawab apa.
“Ne, waeyo?”
“MWOO???? Yak namja mesum. Gila. Bagaimana bisa kau berbuat begitu padaku hah? Dimana sopan
santunmu?”
Yaa yaa yaa, kenapa dia malah marah-marah padaku. Bukankah harusnya dia berterimakasih karena aku sudah menolongnya.
“Yaikh, jangan berteriak. Kau hampir memecahkan gendang telingaku. Aku tak menyentuhmu. Bahkan
tanganku terlalu sayang untuk menyentuh tubuhmu yang jelek itu.”

Kataku berusaha untuk dingin meski aslinya aku gugup. Sungguh suatu keajaiban tadi malam tak terjadi apa-apa mengingat aku telah terkontaminasi virus monyet jelek itu #PLAK#.

”Mwo??? Yaa, kau harusnya minta maaf karena sudah melihat tubuhku tanpa ijin.”
Aish, tetap saja dia marah. Dasar.
“Yaa blonde jelek. Kau harusnya berterimakasih padaku. Aku tadi malam rela kehujanan untuk
mengantarmu yang pingsan ke apartemenmu. Kau sungguh berat. Kau sungguh menyusahkanku saja.
Bahkan aku sekarang terpaksa tak kerja karena sakit. Huh. Aku tak mengharapkan terimakasih darimu.
Aku hanya mencemaskan keadaanmu.”

Dia terdiam sejenak. Sebenarnya apa yang dipikirkannya?

“Gureom, jeongmal gamsahamnida. Berikan alamat rumahmu. Aku akan merawatmu.”

Mengapa dia tanya alamat rumahku? Apa dia mau kesini? Boleh tidak ya.

“Di bla bla bla. Kau akan kesini?”
Akhirnya kuberitahukan alamat dorm ini. Yah, kali saja dia bisa membunuh kesepianku karena di dorm sendiri.
“Ne, annyeong.”
Dia menutup telponnya. Huummh, tampaknya aku harus membersihkan dorm ini agar terlihat rapi. Aish, kenapa kunyuk jelek #dibakarJeWels# itu tak menularkan virus kerapiannya padaku. Huh.
---------------
‘Ting Tong’ >anggap aja bunyi bel.
Aku buru-buru melihat ke layar kecil yang memperlihatkan siapa yang ada di luar. Saat tahu yang datang adalah yeoja bule, segera kubuka pintunya.
“Annyeong.”, sapaku ramah.
Dia menundukkan kepalanya. Wajahnya memerah. Aigoo~ apa dia masih malu? Aish, aku jadi tak enak.
“Ne, annyeong.”, katanya masih tetap menunduk. “Apakah kau masih sakit?”
Dengan malu-malu, dia mengangkat dagunya.
“Aku sudah baikan sekarang, masuklah.”, aku mengajaknya masuk dan duduk di sofa.
“Kau tinggal sendiri?”, tanyanya seraya mengamati keadaan sekitar. “Tapi sepertinya tidak.”
Yeoja itu menunjuk deretan sepatu yang tertata rapi.
“Ne, aku memang tak sendiri. Aku bersama hyungdeulku. Apa kau tak mengenalku?”, jangan bilang dia tidak tau kami. Dia tampak mengeryitkan dahi.
“Apakah kita pernah saling mengenal?”, dia tampak bingung. Aku menghela napas kecewa. Entah kenapa aku lebih kecewa saat tahu ada yang tak mengenal kami daripada saat aku tahu Jeo Rim nuna adalah antis.
“Ani. Ehm, kamu bukan orang Korea?”, tanyaku padanya.
“Kau tak mengenalku? Aku memang bukan orang Korea. Aku dari Inggris. Baru 3 hari ini aku di Korea. Dan kamu teman Korea pertamaku.”, dia tersenyum manis. Apa maksudnya aku tak mengenalnya? Tentu saja aku tak tahu dia.
“Namamu siapa?”, kutanya namanya yang membuatku penasaran.
“Jully imnida. Jully Coward. Neon?”, dia berbalik menanyaiku.
“Donghae. Lee Dong Hae. Tunggu sebentar, akan kuambilkan minum.”, aku beranjak ke dapur untuk membuatkannya minuman. Saat aku kembali dengan segelas minuman, dia nampak sedang mengamati miniature Super Junior hadiah dari ELFINA.
‘Meoooww’
Tiba-tiba Heebum, kucing Heechul hyung berlari keluar kamar dan menabrak Jully.
“Kyaaaaaa.”, Jully berteriak keras dan berlari ke arahku.
‘Brukk, grompyang’
‘Deg’
Apa-apaan ini. Gelas serta nampan yang kubawa jatuh. Tubuh Jully jatuh tepat di atasku. Kami saling terpaku karena kaget. Pandangan mata kami saling menghunus. Aigoo~ aku kerasukan setan apa. Kembali bayangan Jully tadi malam terlintas. Aku mendekatkan wajahku dan terus memperpendek jarak antar kami. Kututup mataku saat kurasa deru napasku menerpa pipinya.
TBC

Next Preview :
~ “Kau Super Junior ya?”
~ “Oke, aku berani taruhan. Aku akan mengalahkanmu hyung.”
~ “Mianhae oppa, aku menyukai hyungmu.”
~ “Jully ah, saranghae.”
~ “Kau membuatku gila oppa.”
~ “Dia hanya 1 bulan di Korea.”
~ “Aku akan kembali. Aku akan membatalkan kontrak.”
0o0

Fiuuh.... benar-benar capek. Akhir-akhir ini saya disibukkan dengan beberapa FF.RCL Don't Forget

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar