5.23.2012

[FF] Let Me Go/Part 2


Title     : Let Me Go
Author : Santi Aprilliani
Length : 2 of ~
Genre  : Sad, Family, Friendship, mistery
Rate    : PG 13
Cast    : Jung Ha Mun (oc)
            Kangin / Kim Young Woon
            Yesung / Kim Jong Woon
            Kim Hee Chul as Jung Hee Chul / Ha Mun brother
            Eeteuk / Park Jung Soo
Disclaimer : FF ini murni ide dari otak saya. bagi yang mengcopas, tak segan-segan saya laporkan. wkwkwkwk.

HAPPY READING 


Yesung POV

Kami memandang rumah beraksen eropa di depan kami. Yah, kami memutuskan untuk tinggal di rumah Ha Mun. aku masih penasaran dengan roh itu. Aku memang belum memastikan itu roh Kangin, tapi aku yakin itu dia. Kami melangkah masuk ke rumah itu dengan membawa koper masing-masing.

‘Cklek’

Heechul hyung membuka pintu rumah. Kami masuk rumah itu. Saat aku memasuki rumah itu, aku merasa ada roh yang mencoba mengontakku. Aish, jangan sekarang, di sini terlalu banyak orang.

‘Deg’

Sepertinya roh itu benar-benar ingin berkomunikasi denganku. Dia menekanku kuat.

‘Bruk’

Koperku jatuh saat tanganku refleks memegang dadaku yang terasa nyeri dan tanganku yang satu mencoba menangkap apa yang ingin roh itu sampaikan. Kututup mataku. Aish, di sini terlalu banyak aura. Ini akan sulit.

“Yesung ah, gwaenchana?”, aku merasa teuki hyung menggoyang badanku.

“Berisik, diamlah.”, aku mencoba berkata santai meski aslinya tubuhku sangat berat karena tekanan roh itu. Kuatur napasku dan kukerahkan tenagaku untuk berkonsentrasi pada satu aura.

‘Hyung’

‘Deg’

Ada yang memanggilku. Kucoba lebih berkonsentrasi dan membalasnya.

‘Kangin ah.’
‘Ne, hyung.’

‘Deg’

Ternyata benar dugaanku. Aku agak terhuyung karena tenagaku benar-benar dikuras. Aku merasa ada yang basah di philtrumku.

‘Kangin ah, jebal, jangan sekarang. Aku tak kuat menahan tekananmu. Di sini terlalu banyak aura.’
‘Hyung, tolong aku.’
‘Jebal Kangin ah, hentikan dulu.’
‘Arrasseo. Tapi kau harus menolongku hyung.’
‘Ne, lepaskan aku sekarang’

Aku merasa roh Kangin semakin menjauhiku. Kontakku terputus. Peluhku membanjir. Ketika kubuka mataku, kulihat wookie tengah mengelap darah yang keluar dari hidungku dengan tatapan cemas. Tidak hanya wookie, tapi yang lain juga menatapku cemas. Aku terhuyung dan langsung ditangkap (?) Siwon. Aku memang masih sadar, tapi aku benar-benar lemas. Aku dipapah menuju salah satu kamar. Begitu memasuki kamar itu, aku merasa kesadaranku semakin hilang hingga tinggal kegelapan.
0o0
Eeteuk POV

‘Bruk’

Aku menoleh kaget. Begitu juga yang lainnya. Yesung tiba-tiba memegang jantungnya dan meraba-raba udara dengan mata tertutup.

“Yesung ah, gwaenchana?”, kugoyang tubuhnya. Entah kenapa aku sangat cemas.

“Berisik, diamlah.”, dia membentakku. Kami memandangnya cemas. Peluh keluar dari tubuhnya. Dia mengeryitkan dahi berkali-kali. Dia sempat terhuyung, namun dengan cepat aku menahannya. Entah apa yang dia lakukan. Darah mulai keluar dari hidungnya. Ryeowook mengelap darah itu. Beberapa saat kemudian dia membuka matanya. dia kembali terhuyung, namun aku kembali menahannya. Darah kembali keluar dari hidungnya. Aku dan dongsaengku membawa Yesung ke salah satu kamar. Tapi sampai kamar dia malah pingsan.

“Aish, dia ini kenapa?”, aku jengkel sekali melihatnya.

“Baru kali Yesung hyung pingsan.”, kata Ryeowook sembari menyelimuti tubuh Yesung. Kami memutuskan keluar dan meninggalkan Yesung yang tengah ditunggu Ryeowook. Saat kami di luar, ternyata di sana sudah ada Ha Mun yang tengah berdebat dengan Heechul.

“Apa-apaan ini oppa? Kalian memutuskan untuk tinggal di rumahku tanpa persetujuanku. Aku tidak suka.”, dia marah-marah pada Heechul.

“Waeyo? Kau harus ingat. Kau itu sedang hamil muda. Kami hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. arrasseo.”, kata Heechul tak mau kalah.

“Aish, itu tak perlu. Aku bukan anak kecil.”, kata Ha Mun seraya berlalu hendak meninggalkan kami, tapi buru-buru kucekal tangannya.

“Jangan marah Jung hamun, ah ani, kim Ha Mun. kami di sini hanya ingin menjagamu. Bukankah kata dokter hamil muda itu masih rentan terhadap keguguran. Kami hanya ingin kau terlindungi. Bukankah dia juga anak dari saudara kami. Jadi ijinkan kami tinggal di sini.”, kataku lembut. Kuhapus airmata yang mengalir di pipi Ha Mun. dia terdiam dan masuk ke kamarnya.

“Hyung, Yesung hyung sudah sadar.”, kata Ryeowook saat mengahampiri kami. Kami buru-buru masuk ke kamar Yesung. Saat kami masuk, Yesung tengah minum air bening (ingat, air itu bening lo yah, bukan putih, wkwkwkwk. #abaikan) dan dia masih setengah berbaring.

“Hyung, dugaanku ternyata benar.”, kata Yesung seraya menatapku. Telunjuknya menunjuk keluar. “Dia benar Kangin.”

Kami kaget dan berpandangan bingung.

“Aku belum yakin tujuannya apa. Tapi yang jelas dia tadi minta tolong. Aku tak bisa mengontaknya terlalu banyak. Karena aku harus berkonsentrasi terhadap satu aura di banyak aura. Itu terlalu sulit hyung.”, dia menatapku. Dia terlihat pucat.

“Gwaenchana Yesung ah. Pelan-pelan saja. Jangan paksakan dirimu. Kalau kamu tak kuat, hentikan. Jangan siksa dirimu. Sekarang istirahatlah.”, kataku. Dia tersenyum padaku.

0o0

Kangin POV

Aku tak menyangka Yesung hyung mempunyai bakat seperti itu. Aku menyadari itu saat kemarin Heechul hyung mendobrak kamar Ha Mun. begitu hari ini mereka di sini, aku langsung berusaha mengontaknya. Tapi dia menahanku untuk berbicara lebih lama. Dia hampir saja pingsan saat aku meninggalkannya. Yesung hyung, harapanku ada padamu. Aku tak mungkin meminta Ha Mun untuk merelakanku. Aku sungguh butuh bantuan mereka.

‘Cklek’

Istriku masuk sambil menggerutu.

“Aish, yeobo. Hyungmu kurang kerjaan. Mereka bilang akan tinggal di sini dengan alasan untuk menjagaku. Hash, bagaimana caraku untuk mengusir mereka.”, katanya seraya duduk di sampingku.

“Jinja? Lalu bagaimana dengan jadawal mereka?”, aku memandangnya lembut. ‘Bagus’. Aku berteriak dalam hati.

“Setelah kepergianmu, mereka akan vakum sementara dan akan comeback 1 bulan kedepan untuk merilis 5jib mereka.” Dia menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Hmmh, biarlah. Lagipula aku tak bisa menjagamu sepenuhnya.”, aku membelai rambutnya.

“Aish, kenapa oppa setuju. Jika mereka ada di sini, itu artinya waktu berduaan kita berkurang oppa.”, dia melotot dan mempoutkan bibirnya.

“Sudahlah. Kita bisa bagaimana lagi?”, kugenggam tangannya. “Apakah kau sudah makan?”

“Ani, aku malas makan oppa. Tiap kali aku makan, aku merasa mual dan akhirnya muntah.”, dia menatapku sendu.

“Ha Mun ah, kau harus makan. Kau harus ingat. Sekarang kau tidak hanya menghidupi dirimu sendiri, tapi disini,”, aku menyentuh lembut perut ratanya. “Di sini adanyang lain yang harus kau hidupi.”

“Arra. Aku akan makan. Oppa jangan kemana-mana. Tunggu aku di sini ya.”, dia beranjak meninggalkanku.

“Mianhae chaggi. Aku tak bisa menjagamu.”, kutangkupkan tanganku ke wajahku. Aku hanya bisa bersedih melihatnya tanpa tau apa yang harus aku lakukan.

0o0

Heechul POV

Aku tengah menata makan siang bersama Ryeowook dan kibum, ketika yeodongsaengku muncul. Tiba-tiba di lari ke wastafel dan sukses muntah di sana.

“Yaa gwaenchana?”, kuhampiri dia yang tengah membasuh mulutnya.

“Oppa, jauhkan bau ikan itu dariku. Dan jika memang kalian berniat tinggal di sini, ada yang harus kalian lakukan. Dilarang memakai parfum selama di rumah. Dilarang masuk ke kamarku. Arrasseo.”, kami menganggukkan kepala.

“Hyuk, singkirkan makanan yang berbau tajam.”, perintahku. Kutuntun Ha Mun ke meja makan. Nampaknya dia mulai baikan. teuki hyung dan semua dongsaengku sudah berkumpul di meja makan, kecuali Yesung.

“Dimana Yesung?”, tanyaku.

“Di kamar. Hyung aku ingin makan berdua dengan Yesung hyung.”, kata Ryeowook seraya membawa dua piring penuh makanan. Kami yang melihatnya hanya bengong. Tapi kami mengerti keadaan Yesung, dan kami memilih untuk diam.

“Yaikh, menjijikkan. Nak kalau nanti kau sudah besar, jangan seperti dua ahjussi gila itu ya.” Sambil berkata begitu, yeodongsaengku mengelus perutnya. Kami hanya tersenyum melihat tingkahnya. Kami lalu mulai makan. Begitu pula dengan Ha Mun. Aku lega karena akhirnya dia tidak lagi muntah.

‘Humpph’

Ha Mun menutup mulutnya dan berlari ke wastafel. Dia memuntahkan apa yang baru saja dia telan tadi. Seketika kami menghentikan makan kami dan mendekatinya.

“Yaa, gwaenchana?”, tanyaku khawatir. Kuurut pelan punggungnya agar dia merasa nyaman.

“Ne oppa. Aku ingin istirahat sebentar.”, dia pergi meninggalkan kami. Wajahnya terlihat pucat.

‘Braakk’

Kupukul meja di depanku. Aku benar-benar frustasi melihat keadaannya sekarang . Aku tak bisa melakukan apa-apa.

“Hyung”

Aku menoleh saat suara Yesung memanggilku. Terlihat dia sudah tidak terlalu pucat.

“Ajaklah Ha Mun keluar. Entah untuk apa. Aku ingin berkomunikasi dengan Kangin.”, kami semua berpandangan mendengar apa yang dikatakan oleh Yesung.

“Arrasseo. Aku akan mengajaknya ke dokter. Aku akan mengulur waktu sebanyak mungkin untukmu. Berusahalah Yesung ah. Aku, ah ani, kami semua mengandalkanmu.”, kataku menyemangatinya. Aku berlalu meninggalkan mereka.

0o0

Yesung POV

Aku menatap kepergan heechl hyung dan dongsaengnya.

“Aku minta semuanya keluar.”, kataku memecah keheningan.

“Mwo? Apa yang akan kau lakukan? Apa kau pikir kami akan membiarkanmu sendirian? Bagaimana kalau kamu pingsan?”, teuki hyung menolakku mentah-mentah.

“Hyung, kalau di sini terlalu banyak orang aku malah bisa mati. Aku sudah memasang kamera di ruang tamu ini. Kalian bisa melihatku dari luar. Dan jangan masuk sebelum aku perintahkan, karena kalian bisa membuatu dalam kesulitan. Kalian bisa masuk jika aku sudah memberi kode atau kalau aku pingsan. Oke.”, kataku pada mereka. “Jebal. Ini semua demi Kangin dan Ha Mun. Kalian sayang kan pada Kangin?”

Sengaja aku menggunakan kata-kata itu untuk meyakinkan mereka. Mereka mengangguk dan meninggalakanku. Aku berkeliling di ruangan ini. Tak kurasakan kehadiran Kangin di ruang ini. Ah, mungkin di kamar Ha Mun. bergegas aku melangkah ke kamarnya.

“Kangin ah, aku tau kau ada di sini. Ikutlah aku. Ada yang ingin kutanyakan.”, aku melangkah keluar dari kamar itu dan menuju ruang tamu. Akun merasakan kehadiran roh Kangin. Rupanya dia sudah ada disini. Mulai kupejamkan mataku. Kuangkat tanganku untuk menangkap auranya. Mulai aku mengontaknya.

‘Kangin ah’
‘Ne hyung’
‘Jadi ini benar-benar kau?’
‘Ne hyung’
‘Bisakah aku bertanya padamu?’
‘Hyung bantu aku’
‘Jamkkamman. Bagaimana kau bisa ada di sini?’
‘Aku juga tak tau hyung’
‘Apakah kau akan mengganggu kehidupan istrimu?’
‘Ani hyung. Justru dialah yang menarikku ke sini.’
‘Apa maksudmu?’
‘Aku sendiri masih bingung hyung’

Aku diam sejenak untuk mengatur napasku yang mulai terengah.

‘Apa kau tak ingin kembali ke duniamu?’
‘Sangat hyung. Tapi aku tak tau bagaimana caranya.’

Aku agak terhuyung. Aish, meskipun sekarang hanya Kangin yang ada di sini, tapi dengan adanya tekanan roh Kangin yang tengah bersedih, tetap mebuatku kewalahan. Kuatur serileks mungkin napasku.

‘Hyung, gwaenchana?’
‘Ne, Kangin ah’
‘Sepertinya ini semua bermula dari buku tua itu.’
‘Buku?’
‘Ne hyung. Buku tua berwarna coklat kusam. Ha Mun menulis permintaannya di situ.”
‘Dan terkabul?’
‘Ne hyung. Buktinya aku sekarang di sini.’
‘Lalu apa yang bisa kulakukan? Membakar buku itu?’
‘Ani hyung, bujuklah istriku agar mau melepasku. Bujuk dia agar merelakanku.’
‘Dan menulis di buku itu?’
‘Ne hyung’
‘Kenapa kau bersedih Kangin ah?’
‘Kau tau hyung?’
‘Aura kesedihanmu menekanku begitu kuat’
‘Mian hyung. Aku sedih karena Ha Mun tak bisa merelakan kepergianku.’
‘Hmmh’
‘Jika aku tak kembali dalam waktu tiga hari, terhitung dari kemarin, aku akan lenyap hyung.’
‘Mwo? Apa maksudmu?’
‘Rohku akan lenyap. Dan itu artinya aku tak akan da di dunia manapun.’

Aku kaget. Tubuhku kembali terhuyung. Kali ini tak bisa menahannya. Aku jatuh terduduk di... untunglah aku jatuh tepat di sofa. Kurasakan ada sesuatu yang asin di mulutku. Darah? Aish, pasti sekarang aku sudah mimisan. Aku harus tahan ini sampai selesai. Aku tak boleh menghentikan ini. Kembali kuatur napasku.

‘Teruskan Kangin ah.’
‘Oleh karena itu aku meminta kalian untuk membujuk istriku agar dia mau melepasku.’
 ‘Arrasseo Kangin ah’
‘Hyung jaga dia untukku. Jagalah bayiku.’
‘Ne Kangin ah. kami akan menjaganya.’
‘Terimakasih hyung. Aku akan menjauhimu dulu. Kau berdarah orang aneh.’
‘Yaa, kau mau mati?’
‘Aku kan memang sudah mati. Kau lupa?’
‘Aish, tunggu aku di duniamu. Akan kutantang kau.’
‘Ne hyung. Kutunggu kau.’

Perlahan aku merasakan roh Kangin meninggalkanku. Kubuka mataku berat. Aku merasa sangat lemas. Baru kali ini aku berbicara dengan roh begitu lama. Kulambaikan tanganku ke arah kamera. Mataku berkunang-kunang. Aku harus bertahan dan tak boleh membuat mereka cemas. Kudengar suara gedebuk orang berlari.

“Yaa, Yesung ah.Gwaenchana?”

0o0

Eeteuk POV

Aku terpaksa keluar. Ryeowook menepuk punggungku pelan.

“Hyung, tenanglah. Percayalah pada Yesung hyung.”, aku tersenyum padanya. Kulihat di dalam LCD, Yesung mulai menutup mata. Kami hanya diam, menahan napas. Selang beberapa saat kulihat dia terhuyung. Aku sudah akan berlari ke dalam.  Tapi tangan Sungmin mencegahku dan membuatku kembali duduk. Kulihat darah telah keluar dari hidung Yesung. Aish, aku sungguh bingung. Aku tak ingin slah satu dongsaengku menderita. Yesung terduduk di sofa. Aku kembali berdiri.

“Ini sungguh gila. Apa dia mau bunuh diri.”, tangan Siwon dan Shindong memegangku erat. “Sebenarnya apa yang kalian lakukan? Aish, lepaskan aku. Kau mau Yesung menyusul Kangin eoh?”

“Hyung tenanglah. Ingat pesan Yesung hyung.”, kata Ryeowook. Ah, aku benar-benar frustasi. Yesung melambaikan tangannya. Kuanggap itu adalah panggilan agar kami masuk. Kami berlarian masuk ke rumah.

“Yaa, Yesung ah. Gwaenchana?”, aku memegang tangannya. Dia menutup matanya. “Ryeowook ah, ambil air bening (wkwkwwkk), Shindong ambil handuk. Kyu ambil tisu.”

“Hyung gwaenchana.”, bisik Yesung lirih.

“Diam pabo.”, bentak  aku kesal. Kurebut handuk yang dibawa Shindong dan ku usap keringat yang membanjir di wajah Yesung. Kyuhyun mengusap darah yang keluar dari hidung Yesung.

“Hyung, aku hanya capek. Roh Kangin menekanku kuat. Air.”, lengan Yesung terulur. Buru-buru Ryeowook memberikan air ke tangan Yesung. Yesung membuka matanya. Dia sangat pucat. Dia meneguk air yang diberikan Ryeowook. “Hyung carilah buku semacam buku permohonan berwarna coklat kusam di kamar Ha Mun.”

“Buku?”, aku mengeryitkan dahi, heran.

“Ne, sepertinya semua bersumber dari buku itu.”, dia kembali menutup matanya.  “Hyung, bantu aku ke kamar. Aku ingin istirahat. Aku sangat lelah. Tak pernah aku berbicara begini lama dengan roh.”

Aku bersama Siwon memapah Yesung ke kamarnya. Semua mengikutiku ke kamar tempat Yesung, aku dan Ryeowook berbagi kamar. Kubaringkan Yesung di ranjangnya dan hankyung menyelimutinya.

“Hyung. Sekaramg roh Kangin ada di kamar Ha Mun. Dia menginginkan kita membantunya.”, dia berbicara lirih dengan mata terpejam. “Tadi aku...”

“Diam pabo. Kau berisik. Tidurlah.”, kupotong perkataannya. Dasar bocah ini, bagaimana bisa dengan mata tertutup, masih saja ngoceh tak jelas.  Tak lama kemudian dia sudah terlelap. Kami semua hanya terdiam memandangnya.

“Kau tau, predikatnya sebagai the weirdest prince sangat cocok. Dia benar-benar sulit dipercaya.”, kata hankyung dengan logat anehnya memecah keheningan.

0o0

TBC

2 komentar: