5.17.2012

[FF] Memorize Of Bear’s Song/Sequel SJ Couple/SungMi


Annyeong readers.......
Author comeback setelah beberapa waktu absen. Author sedang kurang sehat dan mesti rawat inap #plak,gaknanyathor#. Author comeback dengan membawa seperangkat FF SJ Couple. Ini adalah FF SJ Couple yang keempat. Setelah KyuCin couple, YeClaud couple, dan EunKyung couple. Sekarang author bawa FF SungMi couple. #thor,udahannarasinya#. Ya udah, nyok baca sama-sama. Don’t Bash, Don’t copycat. Don’t forget RCL. Happy Reading.
Title       : Memorize Of Bear’s Song
Author : Santi Aprilliani
Genre   : Rommance, Friendship, Family
Rate      : PG 14
Cast       : Lee Sungmin as himself
                  Author as Choi Hye mi
                  Lee Seung Gi as Dokter Kim
                  All  SJ member
Disclaimer : All Super Junior milik Tuhan, Orangtua, SMEnt, dan ELF. But this story is mine. 


Sungmin POV

Bau khas rumah sakit menyengat hidungku. Kupandangi 3 orang di depanku. Tukie hyung, Eunhyuk serta Kyu. Hari ini Hyekyung, yeojachingunya Hyukkie keluar dari rumah sakit. Berhubung kami bertiga sedang free, maka kami putuskan untuk menemani Eunhyuk menjemput yeojanya. Kami memasuki kamar tempat Hyekyung di rawat. Nampaknya dia telah siap untuk pulang. Syukurlah dia bisa mendapat donor sunsum. Jadi dia bisa bertahan. Tak tau bagaimana jika hal itu tak terjadi, dapat dipastikan dongsaengku akan sangat sedih.
2 dongsaengku telah memiliki yeoja, 1 hyungku juga. Aku juga ingin ada seseorang yang bisa kuajak berbagi. Aku ingin bisa bermanja dengan seorang yeoja. Tapi tiap aku mencoba untuk mendekati seorang yeoja, pasti gagal. Hatiku masih belum siap untuk menggantikan kedudukan cheossarangku dengan yang lain.
“Kamu sudah siap? Ayo kita pulang, palli.”, kata leader kami. Mungkin dia sudah tak tahan dengan bau obat yang menyengat ini. Sama sepertiku.
“Chakkaman oppa. Kita tunggu dokternya terlebih dahulu. Dia masih mengambil resepnya untukku.”, Hyekyung buru-buru berkata.
Seseorang masuk. Aku sangat kaget sampai-sampai jantungku mau keluar rasanya. Seorang yeoja masuk ke kamar Hyekyung. Seorang yeoja yang pernah mengisi hatiku selama 3 tahun, yah waktu SMA dulu. Aku terdiam.
“Aah Hyekyung-ssi inikah namjamu? Wah beruntung sekali kamu bisa berpacaran dengan seorang idola. Hahaha.”, katanya. Tawanya masih sama dengan yang dulu. Lesung pipitnya tetap ada. Dia masih benar-benar sama dengan yang dulu. Dia menyerahkan resepnya pada Hyekyung dan menyalami kami satu persatu (emank ada ya disana?). Dia terkejut saat melihatku.
“Nama saya Lee Sungmin. Senang bertemu dengan anda.”, aku buru-buru bicara begitu. Aku tak mau membuka luka lamaku. Meskipun aku mencintainya, tapi rasa bencikupun juga sama besarnya. Dia bingung melihatku bicara seperti itu. Tapi dia hanya terdiam.
“Hyekyung a, sini biar kubeli obatnya.”, kuminta resep tadi dan aku buru-buru keluar. Tak kupedulikan panggilan yang lain. Bergegas aku ke apotek. Setelah aku ke apotek, aku buru-buru masuk ke mobil yang kami tumpangi tadi.
“Hyung, kutunggu di mobil. Aku terlalu capek untuk kembali kesana.”
Kukirim pesan singkat pada Teuki hyung. Kupejamkan mataku. Terbayang hari di 7 tahun silam.
FLASHBACK
“Kita akhiri saja hubungan kita !!”, kata Hyemi. Aku tersedak. Kupandangi dirinya.
“Mwo? Jangan bercanda. Aku tak suka.”, kataku.
“Aku tak bercanda Lee Sungmin. Aku ingin hubungan kita berakhir.”, katanya sambil menundukkan wajahnya.
“Ada masalah apa? Kenapa kamu tak berkata padaku. Aku minta maaf atas semua kesalahanku padamu. Tapi kumohon jangan akhiri hubungan kita ini.”, kataku. Kali ini aku berbicara dengan serius. Mana mungkin aku mengakhiri hubungan yang telah 3 tahun kami jalani.
“Tidak bisa Lee Sungmin. Aku harus pergi. Lupakan aku.”, dia berdiri. Dia menyerahkan cincinnya padaku. Dia berlari pergi meninggalkanku. Aku hanya terdiam. Langit malam yang cerah serta bintang yang berkelip seakan menertawakanku.
FLASBACK OFF
0o0
Hyemi POV
Aku tau dia adalah idola. Aku tau bahwa namja Hyekyung adalah temannya di grup SuJu. Aku selama ini terus melihatnya di layar kaca. Kadang aku juga diam-diam melihat konsernya. Aku hanya bisa mencintainya dari jauh. “CINTA?” apakah aku pantas untuk mencintainya? Apakah aku masih pantas mengharapkan di sisinya. Sedang aku telah melukai hatinya.
Meskipun aku tau Hyekyung memiliki namja member SuJu, tapi aku tak pernah menduga akan bertemu dengan Sungmin di sini. Dia sepertinya masih marah padaku. Dia pura-pura tak mengenalku. Aku tau itu. Mungkin dia tak mau membuka masa lalu kami. Aku sungguh sedih.
Aku mengantarkan Hyekyung sampai dia masuk ke dalam mobil. Aku tau dia disana, dan dia tak mau menemuiku. Tapi ya sudahlah.
“Jika ada apa-apa atau jika ingin ada yang ditanyakan, kamu bisa menghubungiku di nomor tadi.”, kataku pada mereka. Mereka membungkuk dan masuk ke dalam mobil.
Aku menghela nafas. Kupandangi gantungan HP milikku. Aku masih menyimpannya Sungmin ah. Taukah kamu?
0o0
Sungmin POV
Kurebahkan diriku ke kasur. Sangat melelahkan.
“Hyung, anemiamu kambuh kembali?”, evilKyu yang berbagi kamar denganku duduk di sampingku.
Aku terbangun.
“Ani, gwaenchana. Aku ingin ke kamar Shindong dulu.”, disaat seperti ini aku butuh shindong. Dia adalah orang yang kupercaya. Mungkin karena umur kami yang sepadan, makanya aku merasa nyaman jika bersama dia.
“Shindong hyung.”, panggilku.
“Wae?”
Aku masuk ke kamarnya. Kurebut makanan yang tengah dimakannya.
“Yaa, apa yang kau lakukan.”, katanya.
“Hyung. Kau masih ingat dengan Hyemi?”, kataku tak peduli padanya.
“Hyemi? Cheossarangmu? Ya, ada apa? Kembalikan makananku.”, katanya masih berusaha merebut makanannya kembali. Tak tega melihat wajahnya yang memelas, akupun menyerahkan makanannya.
“Iya hyung. Aku bertemu dengannya hyung.”, kupandangi dirinya yang kembali berkutat dengan makanan. Huh pantas saja Wookie bilang aku gendut, ini semua gara-gara Shindong hyung. Aku jadi ketularan gendut.
“Jinja?”, dia memandangku.
“Ne, dia sekarang telah menjadi dokter. Dan kamu tau hyung, dia dokternya Hyekyung.”, kupandangi makanan yang tengah dimakan hyungku. Aduh aku jadi lapar.
“Hyekyung? Yeojachingunya Eunhyuk?”, katanya kembali. Aku beranjak berdiri. “Yaa, kau mau kemana?”
“Iya yeojanya Hyukkie. Aku lapar hyung. Hyung bisakah aku kembali padanya?”, kataku sebelum meninggalkan kamarnya.
“Mwo? Jangan jika itu akan menyakitimu.”, katanya kembali.
Aku keluar dari kamarnya.
“WOOKIE AH, buatkan aku makanan donk.”
0o0
Sungmin POV
Kukeluarkan barang-barang di laciku. Kenapa yang ada warna Pink. Kubuka lemariku. Kenapa banyak baju pink. Aku bisa frustasi. Tapi aku tak pernah bisa menjauhkan warna Pink itu dariku. Mungkin itu sebabnya aku sulit melupakannya. Ya, Pink adalah warna favorit Hyemi. Dia menggilai warna Pink. Dulu aku seperti Teuki hyung yang menyukai warna putih. Tapi itu tak berlaku lagi semenjak seorang yeoja bernama Choi Hye Mi meninggalkanku. Aku selalu bersikap feminim dan mengumpulkan semua yang berwarna Pink. Aku tau, hatiku belum bisa menerima kepergiannya. Aku merasa dengan memiliki apa yang dia sukai, aku akan tetap merasa dia ada disisiku. Beginikah jika terlalu mencintai?
Eunhyuk masuk.
“Hyung, kau tak ada acara hari ini?”, katanya di pintu.
“Tak ada. Mworago?”, aku bangun.
“Yak hyung kenapa berantakan sekali? Huh, maukah kau ikut dengan kami? Kami akan mengadakan pesta ulangtahunku yang terlambat di rumah Hyekyung. Kalau kau tak keberatan sih.”, katanya sembari menarik lenganku untuk bangun.
“Hmm, baiklah.”, jawabku.
Jadilah sekarang aku dirumahnya Hyekyung bersama Heechul hyung, Teuki hyung, Siwon, Eunhyuk, dan Donghae. Yesung hyung, Shindong hyung dan Wookie tengah di shimshimtapa. Sedang Kyu? Jangan tanya, dia sedang bersama Cinta. Entah untuk apa.
“Wah kau sudah berusaha dengan baik untuk menyiapkan ulangtahun untukku.”, kata Hyukkie pada yeojanya.
Aku tersenyum melihatnya. Aku melihat seorang yeoja dengan berbalut gaun putih tengah ngobrol bersama seorang namja yang memakai jas putih. Kuambil minuman dan aku keluar, memandang langit yang hanya mengingatkanku pada hari yang menyakitkan itu.
“Berapa jumlah bintangnya?”, sebuah suara mengagetkanku. Aku menoleh. Aku tertegun.
“Kenapa kau keluar?”, aku berkata sambil memalingkan pandanganku kembali ke langit.
“Aku sudah bosan di dalam. Mereka sedang gila-gilaan. Jadi sudah berapa banyak bintang yang kau hitung?”, katanya. Aku terdiam sejenak.
“Sebanyak jarum yang kau tusukkan di hatiku. (OMG??)”, kupandang tajam padanya. Kulihat senyumnya pudar. Dia menghela nafas.
“Jadi kau masih terluka? Apakah kau masih sangat membenciku?”, dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajahku. Bergegas kupegang tangannya.
“Aku hanya bisa mencabut 1 jarum setiap hari, sedang kau menancapkan ribuan jarum di hatiku, bisakah jarum itu lenyap dengan mudahnya?”, ingin sekali aku meluapkan semua kemarahanku padanya.
“Apakah aku tak bisa mencabut jarum itu kembali. Semuanya?”, katanya. Kukibaskan tangannya.
“Tak akan bisa.”, kutatap wajahnya yang masih terlihat santai. Bagaimana bisa? Dia meraih tanganku.
“Kau rupanya masih memakai cincin ini. Apakah kau masih mengharapkanku?”, dia menunjukkan cincin yang ada di jari kelingkingku. Kutarik tanganku.
“Tak ada urusannya denganmu.”, kutatap dia sebal. Aku berbalik dan masuk kedalam rumah.
“Gom se-ma-ri-ga
Han chi-be-yi-so
Appa gom
Omma gom
Ae-gi gom
Appa gommun tung-tung-hae
Omma gommun nal-shin-hae
Ae-gi gommun na bul-gwi-yo-wo
Hishuk hishuk cha-rhan-da”
Kuhentikan langkahku saat dia menyanyikan lagu itu. Aku menoleh padanya.
“Yaa, apa kau ingin membuatku mati? Kenapa kau dengan mudahnya mempermainkan hatiku? Apa maumu sebenarnya?”, dengan kesal aku berkata.
“Kau ternyata masih mengingatnya. Sepertinya kau belum melupakan sama sekali tentang diriku.”, dia berkata enteng padaku. Aku menatapnya geram.
“Kalau benar kenapa? Aku memang tak bisa melupakanmu, lalu kau mau apa? Menghapus ingatanku?”, kucekal tangannya karena kesal.
“Ani, aku malah senang. Setidaknya masih ada harapan untukku untuk kembali padamu.”, dia mencium pipiku kilat. Aku terdiam. Dia berlalu meninggalkanku yang masih terpaku.
0o0
Sungmin POV
Hari ini aku menemani Eunhyuk dan Hyekyung ke rumah sakit. Hyekyung akan melakukan terapi pasca operasi. Sebenarnya kalau boleh jujur, aku ingin menemui Hyemi. Entahlah, sepertinya aku benar-benar mengharapkannya kembali padaku. Bolehkah?
“Hyekyung ah, dimanakah dokter yang saat itu? Yang memberikan resep itu?”, tanyaku pada Hyekung saat kutau yang menangani Hyekyung bukanlah Hyemi. Hyekyung mengeryitkan dahinya.
“Maksudmu dokter Hyemi oppa? Dia kan bukan dokterku. Dokterku adalah dokter Kim. Saat itu Dokter Kim tengah menangani pasien yang lain, jadinya Dokter Hyemi yang menanganiku. Sering juga sih dokter Kim dan dokter Hyemi saling membantu. Mereka kan teman dekat.”, kata Hyekyung. Teman dekat? Namjachingukah?
“Owh, lalu dimanakah dokter Hyemi?”,tanyaku kembali.
“Dia dokter spesialis anak oppa.”, katanya sebelum masuk ke ruang terapi. “Apakah kau menyukainya?”
“Hahaha. Ani, ya sudah kalian masuk sana. Aku ingin jalan-jalan.”, kataku.
Bergegas aku pergi meninggalkan mereka. Hmmh, kenapa ramai sekali rumah sakit ini. Kulihat anak-anak di taman. Banyak sekali yak. Sepertinya seseorang mengenaliku.
“Sungmin-ssi? Kau Sungmin SuJu kan?”, kata seorang ajumma.
“Ah, ne. Apakah aku boleh bergabung dengan anak-anak ini?”, kataku pada ajumma tersebut. Aku mulai merasa banyak yang memotretku. Biarlah. Aku mulai bergabung dengan anak-anak yang tengah asyik bermain. Mereka menggemaskan sekali.
“Apakah kalian suka bernyanyi?”, aku bertanya. Kini aku menggendong seorang anak kecil yang di tangannya tersambung selang infus.
“Ne.” serempak mereka menjawab.
“Hahaha. Kalian semangat sekali. Maukah jika kakak menyanyi buat kalian?”, kataku kembali.
“Ne.”
“Oke, tapi kalian ikuti kakak ya.”, kuserahkan anak kecil yang kugendong tadi pada eommanya. Aku maju ke depan mereka. Semua melihatku. Banyak yang mengarahkan ponsel dan kameranya padaku. Aku tak peduli. Melihat senyum anak-anak membuatku merasa sangat senang.
“Gom se-ma-ri-ga
Han chi-be-yi-so
Appa gom
Omma gom
Ae-gi gom
Appa gommun tung-tung-hae
Omma gommun nal-shin-hae
Ae-gi gommun na bul-gwi-yo-wo
Hishuk hishuk cha-rhan-da”
Aku mengakhiri tarian beruangku. Kulihat mereka tertawa senang saat aku selasai menyanyi.
“Wah kau masih pandai juga. Bagaimana anak-anak? Masih bagusan mana dokter sama Sungmin-ssi?”, sebuah suara mengagetkanku.
“Dokter Hyemi !!”
Serentak mereka menjawab. Hyemi tersenyum nakal padaku. Dia menggandeng tanganku.
“Sungmin-ssi, aku ingin menunjukkanmu sesuatu. Dia menarik tanganku. Aku melambaikan tangan pada anak-anak tadi. Kami memasuki sebuah ruangan. Aku ikut masuk. Ruangan itu kosong.
“Kau lucu sekali. Bisa menarikan tarian beruang seperti tadi.”, katanya sambil membelakangiku.
“Kenapa kau membawaku kesini? Jika tak ada yang penting aku ingin keluar.”, kataku sembari berjalan menuju pintu.
“Ani, aku hanya ingin mengobrol denganmu. Bagaimana bisa Sungminku dulu telah menjadi seperti ini. Kau manja sekali pada hyungmu. Bahkan kau sering sekali bersikap aegyo pada mereka. Bahkan aku saja masih kalah. Tapi bukankah kau menyukai warna putih? Kenapa barang yang kau miliki sebagian besar berwarna pink? Itu bukan berarti kau mengharapkanku kan?”, kata Hyemi.
“Kau gila. Aku tak mengaharapkanmu. Aku membencimu.”, dengan kesal aku meninggalkan dia sendirian di ruangan tersebut. Kamu sebenarnya tak salah, aku memang masih mengharapkanmu.
0o0
Hyemi POV
Apa aku salah mengharapkan dia memaafkanku? Aku tau kesalahanku terlalu besar. Tapi aku masih menyayanginya. Bolehkah aku kembali padamu? Maafkan aku. Aku pergi meninggalkanmu tanpa bisa menjelaskan apa masalahnya.
“Hyemi ah.”
Aku menoleh. Kim Seo Jin, teman dekatku. Dia mendekat padaku.
“Kau mendekatinya kembali?”, dia duduk di sampingku.
“Iya. Entahlah apakah aku bisa.”, aku menerawang.
“Kenapa kau tak menjelaskan padanya apa yang terjadi padamu waktu itu?”, dia menatapku.
“Aku terlalu malu. Aku tak sanggup menjelaskannya. Aku tak bisa.”, kataku. “Kumohon jangan memaksaku.”
Aku pergi meninggalkannya. Ingatanku pada 7 tahun silam membuatku pusing. Aku tak ingin mengingat kembali masa lalu yang sangat menyakitkan tersebut.
0o0
Sungmin POV
Kujejakkan kakiku di bandara internasional Seoul. Hari ini kami baru kembali dari Indonesia. Kami ke Indonesia untuk menyelamatkan kisah cinta hyung kami yang teraneh, Yesung hyung (baca FF : Just You). Kami kembali ke Korea, sedang yeojachingunya akan ke menyusul jika semua surat-suratnya telah selesai. Aku merasakan pusing saat melangkah. Entahlah, mungkin aku kecapekan. Yah ini karena jadwal kami akhir-akhir ini sangat padat. Apalagi harus membantu Yesung hyung. Jadi kami harus bolak-balik naik pesawat.
Kami telah sampai di dorm. Aku bergegas ke kamar, begitu pula yang lain. Mungkin kami sama-sama capek. Kulihat Kyuhyun merapikan barang-barangnya. Namun aku tak bertenaga untuk merapikan barang-barangku kembali. Aku berbaring. Kupejamkan mataku. Kepalaku berdenyut. Aduh aku pasti kecapekan.
“Hyung, kau tak merapikan barangmu terlebih dahulu?”, Kyuhyun berkata seraya memasukkan bajunya ke lemari.
“Ani. Aku pusing. Kyuhyun ah, bisakah kau ambilkan minum untukku?”, kataku lemas.
0o0
Author POV
“Hyung, kau tak merapikan barangmu terlebih dahulu?”, Kyuhyun berkata seraya memasukkan bajunya ke lemari.
“Ani. Aku pusing. Kyuhyun ah, njkhadihedwhdjhdjdhzz?”, Sungmin berkata tak jelas. Dia berkata lirih.
“Ya hyung, kau ini ngomong apa sih? Apakah kau sakit?”, Kyuhyun meletakkan Barangnya. Bergegas didekatinya Sungmin.
“Ani Kyuhyun ah.”, kata Sungmin. Dia tetap memejamkan matanya. Kyuhyun meletakkan tangannya di dahi Sungmin.
“Ya hyung, kau sakit? Haish jeongmal.”, Kyuhyun panik. Dia beranjak berdiri. Dia keluar kamar.
“Teuki hyuuuuung. Teuki Hyung kau di dalam?”, seperti orang gila, Kyuhyun berteriak-teriak.
“Ya, aku masih memiliki pendengaran yang bagus tau.”, kata Eeteuk yang bergegas keluar kamar. Sebagian member ikut melongok keluar.
“Hyung, Sungmin hyung sakit.”,Kyuhyun berkata dengan puppy eyes nya.
“Mwo? Haishh, pasti dia kecapekan.”, kata Eeteuk. Dia berjalan setengah berlari menuju kamar Sungmin diikuti member yang lain.
Disentuhnya dahi Sungmin. Panas.
“Ya, Sungmin ah, gwaenchanayo?”, Eeteuk memegang tangan Sungmin, cemas. Bukannya menjawab, Sungmin malah bergumam tak jelas.
“Yesung ah, ambilkan es batu.”, perintah Eeteuk.
“Ini hyung.”, ternyata Heechul telah tanggap. Dia membawa es dan pengompres. Segera Eeteuk mengompres Sungmin.
“Hyung, ini termometernya.”, Wookie datang membawa alat pengukur suhu.
Eeteuk menempelkan thermometer tersebut di telinga Sungmin.
“39 derajat. Apakah kita harus bawa dia ke rumah sakit?”, Eeteuk memandang yang lain. Berharap ada yang mempunyai ide.
“Hyung, kita tunggu sampai esok pagi. Jika panasnya tak turun juga, kita bawa ke rumah sakit. Jangan sampai ada yang tau. Kita bergilir jaga Sungmin.”, kata Heechul. Dia memang sosok yang selalu memperhatikan member lainnya.
“Hyung, ini aku bawa paracetamol. Aku baru membelinya di apotek.”, Kyu muncul membawa obat. Begitu tau hyungnya sakit, dia berinisiatif membeli obat.
“Gomawo Kyu. Kau saeng yang baik. Sungmin ah, bangunlah. Minumlah obat ini dulu.”, Eeteuk mengangkat kepala Sungmin, membantunya bangun. Sungmin membuka matanya sedikit, setengah tak sadar. Dia menurut saat obat itu dimasukkan dalam mulutnya.
Malam itu mereka bergiliran menjaga Sungmin. Meski telah dikompres, demamnya tak turun juga. Mereka membawa kasur mereka ke luar kamar Sungmin. Dengan begitu mereka mudah menjaga Sungmin. Sementara yang lain tidur, Yesung, Siwon dan Eunhyuk tak bisa tidur. Maklum mereka giliran jaga.
“^$#$$....Hyemi ah.. gajima.. jebal gajima.. Hyemi ah..”
Ketiga namja itu kaget ketika Sungmin mengigau. Mereka segera membangunkan member yang lain.
“^^&^$^#.. Hyemi ah.. Hyemi ah....$^$^&@#”
Kembali Sungmin menggumam tak jelas. Eeteuk mendekati Sungmin. Dia kembali mengukur suhu badannya.
“Omona, 40 derajat. Kenapa semakin naik. Dia menyebut nama siapa? Apakah kita ke rumah sakit saja sekarang.”, kata Eeteuk benar-benar khawatir.
“Chakkaman. Aku  tau siapa Hyemi. Sebaiknya kita bawa saja dia kemari. Setauku dia dokter yang pernah menangani Hyekyung. Sungmin hyung mengenalnya. Aku sudah tau pasti ada yang disembunyikan dari mereka berdua.”, kata Eunhyuk.
“Baiklah panggilkan kalau memang dia dokter.”, kata Heechul sambil mendorong badan Eunhyuk.
Tak sampai 15 menit, Eunhyuk datang bersama seorang yeoja. Yeoja itu membawa tas, terlihat kusut. Dari raut wajahnya, nampak mimik kecemasan.
“Jeogi, bolehkah aku memeriksanya sekarang?”, kata Hyemi.
“Tentu saja. Palli.”, kata Eeteuk.
Beberapa lama dia memeriksa Sungmin dengan tangan yang bergetar.
0o0
Hyemi POV
Aku kaget saat malam-malam Eunhyuk datang ke rumahku. Aku lebih kaget saat diberitahu kalau Sungmin sakit. Aku ingin memeluknya, menenangkannya. Aku minta ijin untuk memeriksanya. Kupegang dahinya. Omona panas sekali. Kuukur suhunya, 40 derajat. Kenapa panas sekali. Tanganku bergetar hebat. Senter yang kupegang jatuh.
“Mianhamnida. Maafkan aku.”, aku membungkuk pada mereka. Aku memeriksa dengan menunduk. Airmataku telah jatuh. Aku menangis dalam diam.
Kuambil terlebih dahulu sampel darahnya. Kucermati tubuhnya. Kuarahkan cahaya dari senter ke matanya. Setelah lama memeriksa, aku terdiam. aku menghela napas.
“Dia sekarang pingsan. Setelah kucermati, aku curiga dia terkena demam berdarah. Sekarang juga bawa dia ke rumah sakit. Sepertinya dia anemia juga.”, aku terus memandang wajahnya. Kudengar mereka ribut mempersiapkan diri ke rumah sakit. Tanganku bergetar. Kusentuh wajahnya. Wajah yang sangat kucintai.
“Yaa, apa yang kau lakukan. Meskipun kau memeriksanya, tak sepantasnya kau melakukan itu. Itu tak sopan.”, aku tersentak saat sebuah suara menegurku. Aku menoleh. Heechul.
“Ah, mianhamnida. Aku tak bermaksud lancang. Aku akan berangkat terlebih dahulu untuk menyiapkan keperluannya di rumah sakit.”, bergegas kurapikan barangku dan aku keluar dengan airmata yang masih menetes.
0o0
Author POV
Semua member menatap kepergian Hyemi dengan heran.
“Apakah aku tadi terlalu kasar?”, kata Heechul merasa bersalah saat melihat Hyemi menangis.
Semua terdiam. Semua telah siap.
“Ani hyung. Sebenarnya, Hyemi adalah cinta pertama Sungmin.”, kata Shindong tiba-tiba. Karuan saja semua kaget.
“Mwo? Apa yang kamu bilang?”, kata Eeteuk.
“Ya, dia adalah cinta pertama Sungmin. Aku tau mereka saling mencintai, tapi masih ada masalah yang tak bisa dimengerti.”, Kata Shindong.
Semua menatap Shindong. Mereka tau Shindong dekat dengan Sungmin. Mereka mengangkat bahu dan bergegas menuju rumah sakit.
0o0
Sungmin POV
Kubuka mataku perlahan. Masih pusing. Kuperhatikan sekelilingku. Hyung dan dongsaengku tengah tidur di sofa. Mereka semua tidur kecuali Siwon dan Wookie.
“Wookie ah”, kunggil dongsaengku dengan lirih.
Mereka menoleh padaku. Wookie mendekatiku, sedang Siwon membangunkan yang lainnya.
“Hyung, gwaenchanayo?”, Wookie menyentuh dahiku. Dia memandangku dengan cemas, begitu pula dengan yang lain.
“Gwaenchana.”, aku menjawab singkat. Donghae masuk bersama Hyemi. Dadaku berdegup tatkala dia mendekat ke arahku. Aku diam saja, kupalingkan mukaku. Aku tak ingin menatap matanya. Dia memeriksaku dan mengambil darahku.
“Sungmin-ssi, dapatkah aku memeriksa matamu?”, aku mendengar nada keraguan dalam perkataannya. Kutolehkan wajahku padanya. Dia mengambil senter dan menyorotkannya padaku. Mata kami beradu. Kami terdiam cukup lama.
“Baik, saya akan bawa sampel darah ini ke lab dulu. Kalian tenang saja, Sungmin-ssi masih mengalami gejala demam berdarah, belum positif. Jadi kemungkinan penyembuhannya bisa berlangsung dengan cepat.”, kata Hyemi. Dia bergegas pergi, tapi Teuki hyung menghentikannya.
“Jeogi. Bagaimana bisa dia terkena demam berdarah? Itu amat jarang terjadi di sini. (bener gak ya? Author kurang tau,hehehe)”, huft, kukira Teuki hyung hendak bicara yang aneh-aneh.
“Demam berdarah umumnya terjadi di daerah iklim tropis. Apakah kalian baru saja ke daerah dengan iklim tropis? Kalau anda perkenankan, aku akan ke lab terlebih dahulu.”, kata Hyemi sambil berlalu. Aku menatap kepergiannya dengan perih. Kenapa aku harus bertemu denganmu lagi.
“Sungmin ah”, aku menoleh ke arah Yesung hyung. Dia memegang pundakku. “Jeongmal mianhe. Ini semua gara-gara aku. Gara-gara kau membantuku, kau jadi sakit seperti ini. Pasti kamu terkena penyakit ini pas di Indonesia. Maafkan aku ya.”, Yesung hyung menundukkan wajahnya. Dia tak berani memandangku, dia pasti merasa bersalah.
“Gwaenchana hyung. Lihat sisi positifnya, aku jadi bisa beristirahat. Hihihi.”, aku tertawa kecil untuk menenangkan hatinya. Dia tersenyum kearahku.
0o0
Sungmin POV
Sudah sehari aku di RS ini. Karena hanya gejala, aku bisa membaik dengan cepat. Sekarang saja aku sudah bisa jalan-jalan ke ruang anak. Yah aku kalau kerumah sakit ini, pasti selalu ke ruangan ini. Menyenangkan rasanya bisa dekat anak-anak yang sedang sakit dan memberi mereka semangat agar mereka bisa segera sembuh.
“Oppa sakit?”, tanya seorang anak kecil yang memang telah kukenal. Dia memang termasuk pasien tetap di sini. Kekebalan tubuhnya kurang, makanya dia sering di rawat di sini. Namanya Choi Je Rim.
“Ani Jerim ah, aku hanya kecapekan. Apakah kau mau bermain bersamaku?”, aku duduk di sampingnya. Aku tau saat ini orang-orang tengah mengambil gambarku. Namun aku tak peduli.
“Ani oppa. Aku sedang bosan bermain. Owh iya oppa. Menurutku oppa masih kerenan waktu SMA dulu.”, dia memandangku, lalu merapikan rambutku.
“Saat SMA? Memangnya kamu tau saat oppa SMA.”, aku ikut merapikan rambutnya. Dia tertawa kecil.
“Tentu saja. Oppa mau ikut aku? Aku akan tunjukkan ruang rahasia Dokter Hyemi. Dokter Hyemi kan sedang ikut dalam operasi anak kecil lainnya.”, dia mengelus pipiku. Hahaha, aku geli. Kusentil hidungnya.
“Kau mau mengantarku?”, dia mengangguk bersemangat. Tangannya yang terbebas infus menggandeng tanganku. Aku mengikutinya. Kami masuk ke ruang Hyemi. Dia mengajakku ke dalam ruang yang tertutup tirai. Aku tercengang. Di dalam situ terdapat posterku dalam berbagai pose. Juga terdapat foto-foto ukuran besar saat kami SMA dulu. Aku membuka sebuah kotak kayu. Di situ terdapat album foto serta surat-surat kami dulu. Aku juga masih menemukan boneka lumba-lumba yang dulu kuberikan padanya.
“Apa yang kalian lakukan di sini?”, sebuah suara mengagetkan kami. Aku dan Jerim menoleh. Kami mendapati Hyemi tengah memandang kami dengan wajah memerah. “Jerim ah, kenapa kau tak bisa jaga rahasia. Sejak kapan aku mengijinkanmu untuk membawa orang lain masuk kesini.”
Jerim memegang erat tanganku. Dia terlihat merasa bersalah dan takut.
“Jerim ah, gwaenchana. Jangan takut. Bisakah kau biarkan oppa bicara berdua bersama Dokter Hyemi.”, tak satu kata keluar dari mulut Jerim. Dia berlari keluar sambil membawa infusnya. Aku dan Hyemi terdiam saling menatap.
“Aku tak ingin mendengar apapun darimu. Kau selalu membuatku bingung. Dari apa yang aku lihat ini, sepertinya kau begitu menyayangiku. Tapi mengapa kau meninggalkanku dulu? Aku ingin meminta padamu 1 hal saja. Berhenti mempermainkan hatiku. Aku bukanlah seperti boneka lumba-lumba yang pernah kuberikan padamu. Yang lucu dan yang bisa kau permainkan dengan mudah sesuai keinginanmu. Tapi aku adalah seorang namja yang menyayangimu dengan tulus. Tapi kau mempermainkan hatiku. Dan aku tak tau sekarang, apakah aku masih bisa menerimau.”, aku mengambil boneka lumba-lumba tadi. “Boneka ini akan kubawa, agar kau tak bisa mempermainkannya lagi.”
Aku pergi meninggalkannya. Dia hanya terdiam membiarkanku pergi. Apa-apaan ini, seharusnya kan dia menahanku dan minta maaf. Dasar nappeun yeojaya. Aku keluar dari ruangannya. Seorang Dokter menghentikanku.
“Jeogi, Sungmin-ssi. Ikutlah keruanganku.”, Dokter ini adalah Dokter yang waktu itu kulihat bersama Hyemi di pesta. Aku mengikuti langkahnya hingga sampai diruangan khusus yang bertuliskan ruang khusus untuk penyakit yang berhubungan dengan Sistem transportasi dalam tubuh. Aku mengikutinya untuk duduk.
“Apakah ada sesuatu yang aneh dalam tubuhku?”, dengan cepat aku bertanya. Aku gerah melihatnya. Dia memandangku tajam.
“Sungmin-ssi. Apa yang kamu pikirkan selama ini salah. Hyemi bukanlah orang seperti itu. Dia meninggalkanmu karena terpaksa.”, dia berbicara tanpa basa-basi.
“Gurae? Hah, aku kira dia meninggalkanku untuk kepentingannya sendiri, atau mungkin untuk namja lain. Lalu setelah aku terkenal, dia kembali padaku.”, aku memalingkan wajahku.
“Ani. Jangan memotong pembicaraanku. Aku akan memberimu alasan mengapa dia meninggalkanmu. Sebenarnya, 7 tahun yang lalu adalah masa tersulit Hyemi. Dia diperkosa oleh teman ayahnya sendiri (mian kalau terlalu kasar or vulgar).  Hyemi yang shock, beberapa kali berusaha membunuh dirinya sendiri. Akhirnya dia bersama ibu dan ayahnya pergi dari Korea untuk menghilangkan rasa shock Hyemi. Mereka pergi ke Jerman. Di situlah awal pertemuanku dengan Hyemi. Aku mahasiswa dari Korea yang ke Jerman untuk kuliah di jurusan kedokteran. Aku bertemu Hyemi saat dia melahirkan di rumah sakit tempatku praktek. Aku tau kisahnya dari ibunya. Mulai saat itu aku mendekatinya untuk memberikan dia semangat. Tapi setelah dia kembali semangat, mendung hitam kembali padanya. Anaknya menderita pneumonia yang membuatnya kehilangan nyawanya tepat di usianya yang baru 2 tahun 2 minggu. Hyemi kembali terbentur. Dia bagaikan orang gila saat putrinya dimakamkan. Dan dia berjanji, mulai saat itu dia akan menjaga semua anak-anak untuk mengisi rasa kehilangannya akan putrinya. Dia tak pernah memberitahumu tentang ini semua karena dia merasa sangat tidak pantas untukmu. Berkali-kali aku menyuruhnya untuk memberitahumu. Tapi dia selalu menolak. Aku harap kau bisa memaafkannya. Dia sangat rapuh. Andai kau ada disisinya waktu itu, mungkin dia tak akan merasa tergoncang begitu hebat. Butuh waktu 3 bulan untuk menyembuhkan goncangan jiwa Hyemi saat kehilangan putrinya.”, dia terdiam menatapku. Aku balas menatapnya.
“Apakah kau sudah selesai?”, tanyaku padanya.
“Ya. Dan kau boleh pergi. Semua keputusan ada padamu. Aku hanya tak ingin kau menilai yang buruk darinya.”, dia bernjak berdiri dan membelakangiku. Aku berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut. Aku kembali keruanganku. Masih kosong. Memang hari ini Super Junior ada acara di SBS. Tapi mereka berjanji akan kesini setelah acara selesai. Aku sangat kesepian. Kuambil ponselku dan aku berbaring sambil bermain HP.
“Shindong ah, bawakan aku gitar jika kau kesini.”
Send. Kuletakkan Ponselku. Aku merenung. Pikiranku terus melayang pada apa yang dibicarakan Dokter Kim tadi. Tak terasa aku tertidur.
Kubuka mataku. Sudah berapa lama aku tertidur.
“Sungmin ah, kau sudah bangun?”, Teuki hyung menepuk pipiku pelan. Kuusap pipiku.
“Ya hyung, sakit tau.”, aku mendelik padanya. Infus di tanganku telah hilang. Aku melihat ke arah Shindong.
“Shindong hyung. Kau bawa gitarku?”, kataku sambil bangun.
“Ne, tapi bukankah sekarang kau sudah boleh pulang. Kenapa harus bawa gitar kesini segala?”, kata Shindong hyung. Dia menyerahkan gitarku padaku. Kupetik sebentar senarnya. Setelah kurasa pas, aku turun dari ranjangku dan pergi keluar kamar.
“Ya, Sungmin ah, kau harus berkemas untuk pulang.”, Heechul hyung berteriak padaku.
“Chakkaman hyung. Ada yang harus aku lakukan.”, kataku tanpa menoleh pada mereka.
“Biarkan dia hyung. Ayo kita saja yang merapikan barangnya.”, kudengar Hyukkie mengajak member lain untuk membersihkan ruangan itu sebelum kami pergi. Kau memang saeng yang baik Hyukkie ah. Aku berjalan menuju taman tempat anak-anak biasa berkumpul. Kudekati anak-anak, dan aku berbisik pada mereka.
“Ya, maukah kau mengajak Dokter Hyemi keluar?”, bisikku pada mereka. Mereka  mengangguk.
Tak berapa lama Hyemi datang bersama anak-anak. Aku memetik gitarku mulai menyanyikan lagu “Love’s Rommance”. Lagu yang pertama kali kumainkan dengan gitar. Aku berlatih dengan keras waktu itu hanya untuk mendapatkan hatinya.
---
Petikanku berakhir. Semua bertepuk tangan termasuk anggota SuJu. Aku membungkuk. Aku berjalan pelan ke arah Hyemi yang masih bengong.
“Dokter Hyemi, sebelum aku keluar dari rumah sakit ini, apakah kau keberatan jika memeriksaku sekali lagi.”, aku menatap matanya. Dia berjalan mendahuluiku kembali ke ruanganku. Aku berbaring. Kami membisu. Dia memeriksaku dengan serius.
“Bagaimana menurutmu lagu tadi?”, aku memancingnya untuk berbicara.
“Sama”, katanya singkat.
“Jadi apakah kau mau menjadi yeojaku kembali?”, aku tau dia kaget. Dia berhenti memeriksaku.
“Apa maksudmu?”, dia memandangku. “Aku tak pantas untukmu. Kau sudah sehat, pulanglah. Aku sekarang hanyalah fansmu.”
Dia beranjak meninggalkanku.
“Wae? Kenapa tak pantas? Aku sudah tau semuanya. Alasan kau pergi meninggalkanku. Mungkin jika dulu kau menceritakannya padaku, kita bisa membesarkan putrimu bersama.”, dia berhenti dan menoleh padaku.
“Arrayo?”, dia mendekatiku kembali.
“Ne. Dan aku tak peduli.”, kulingkarkan tanganku di pinggangnya. Kami terdiam.
0o0
Author POV
“Gom se-ma-ri-ga
Han chi-be-yi-so
Appa gom
Omma gom
Ae-gi gom
Appa gommun tung-tung-hae
Omma gommun nal-shin-hae
Ae-gi gommun na bul-gwi-yo-wo
Hishuk hishuk cha-rhan-da”
                Terlihat Sungmin SuJu bersama dengan Hyemi menyanyikan Bear’s song sambil menari. Anak-anak pun tertawa melihatnya. Ada yang berbeda dengan Sungmin. Cincin di jari kelingkingnya tak terlihat lagi, karena cincin itu kini tersemat di jari manis Dokter Hyemi.
End
0o0

                Gamsahamnida untuk membacanya. RCL RCL diobral. Wkwkwk. Nantikan FF SJ Couple selanjutnya. Couple selanjutnya adalah sang leader, mau????? Mohon kritik dan sarannya. leave komen.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar